KADO ISTIMEWA DI HARI SWEET SEVENTEEN

Pesma Diana
Latest posts by Pesma Diana (see all)

Happy birthday to you
Happy birthday to you
Happy birthday
Happy birthday
Happy birthday to you

Lagu Happy Birthday yang dinyanyikan sahabat dan teman-temanku sore ini terdengar begitu merdu di telingaku, bak paduan suara profesional. Hehe … mungkin karena saat ini suasana hatiku sedang berbunga. Sore ini, aku bagaikan seorang putri raja. Salah satu ruangan di Café Athaya menjadi kerajaannya. Aku sengaja mengundang  beberapa sahabat dan teman-temanku untuk ikut bergembira merayakan pertambahan usiaku, yang hari ini genap tujuh belas tahun.

Ulang tahunku kali ini begitu spesial. Tidak seperti biasanya, acara kali ini, khusus dihadiri oleh sahabat dan teman-temanku saja, tidak ada mama dan papa yang mendampingi seperti ulang tahunku tahun-tahun sebelumnya. Karena aku ingin menikmati permulaan masa dewasaku bersama sahabat dan teman-temanku.

“Selamat ya, Fel, udah 17 tahun.” Riana, sahabatku, menjadi yang pertama memberikan ucapan selamat, diikuti sahabat dan temanku yang lain. Mereka menyalamiku satu persatu sambil menyerahkan kado spesialnya.

“Makasih ya, sudah datang, silahkan nikmati pestanya,” kataku membalas sambil terus tersenyum kepada tamu yang hadir.

Butuh waktu hampir sebulan bagiku untuk mempersiapkan pesta ini. Mulai dari merancang undangan, mengatur menu, mengatur acara sampai menentukan kostum yang cocok untuk perayaan hari spesial ini. Untungnya Riana bersedia waktunya aku sabotase untuk mempersiapkan semua ini. Hehe … thanks a lot, Rianaku.

Setelah beberapa acara pembukaan, pesta dilanjutkan dengan acara bebas. Mulai dari menyanyi, berjoget sampai memberikan tantangan-tantangan konyol. Seru!!! Semua larut dalam suasana pesta malam ini. Kami juga saling bercengkerama membicarakan indahnya masa-masa remaja.

Usia tujuh belas, sangat spesial bagiku. Ini adalah gerbang kedewasaanku. Betapa tidak, mulai hari ini, aku sudah dianggap sebagai remaja yang mulai beranjak dewasa. Mulai hari ini juga, aku akan memiliki kartu sakti, KTP. Yup, Kartu Tanda Penduduk. Kartu yang hanya bisa dimilliki oleh seseorang yang sudah dewasa. Hehe …

Semakin sore, acara semakin seru. Berbagai hidangan tersedia di meja. Demikian juga minumannya. Sahabat dan teman-temanku bebas memilih menu yang mereka suka. Sore itu, kami benar-benar berpesta. Melupakan sejenak kebuntuan pelajaran di sekolah. Hampir jam 19.00 WIB, acara selesai. Satu persatu sahabat dan teman-temanku mulai meninggalkan café.

Aku dan sahabatku, Riana, juga mulai bersiap untuk meninggalkan café. Kado-kado pemberian sahabatku, kami angkut satu persatu ke mobil. Dibantu oleh salah seorang pelayan café, dalam beberapa menit, akhirnya semua kado sudah berpindah ke dalam mobil.  Sebelum keluar dari ruang acara, aku sempat melirik meja di mana makanan dan minuman tadi terhidang. Banyak makanan yang tidak habis dimakan oleh teman-temanku. Bahkan, ada gelas yang ditinggalkan begitu saja meskipun isinya masih penuh. “Mubazir.” Sesaat kata itu terlintas di kepalaku.

Setelah menyelesaikan pembayaran di kasir, aku dan Riana, bersiap menuju mobil. Tak jauh dari tempat di mana mobilku terpakir, aku melihat dua orang kakak beradik sedang mengais sisa-sisa makanan yang ada di tong sampah samping café. Umur si kakak kira-kira terpaut tiga tahun di bawahku. Sedangkan umur si adik, kira-kira terpaut tujuh tahun di bawahku.  

Baca juga :  TERLAMBAT

Aku miris. Langkahku terhenti, mataku tertegun menyaksikan pandangan itu. Ingatanku kembali pada meja penuh makanan dan minuman di dalam café tadi. Yang ditinggalkan begitu saja oleh teman-temanku setelah pesta usai. Makanan halal dan baik, yang kami buang begitu saja. Sementara mereka, mengais sisa–sisa makanan di tong sampah, untuk mencari sekadar pengganjal perut. Dua pemandangan yang saling bertolak belakang.

Betapa tidak bersyukurnya kami, ya Allah. Aku kembali tertegun dengan pandangan nanar menatap kedua kakak beradik itu. Air mataku meluncur begitu saja tanpa mampu kutahan. Riana pun nelangsa, “Kasihan mereka.”

“Ri, kamu liatin mereka bentar, ya. Jangan biarkan mereka pergi. Aku segera kembali.” Riana hanya mengangguk dan mengikutiku dengan pandangan matanya. Aku bergegas kembali ke dalam café, memesan beberapa porsi  makanan dan minuman. Setelah membayar di kasir, aku segera menuju kakak beradik tadi.

“Hai …” Aku mencoba menyapa mereka dengan ramah. Mereka tampak sedikit kaget dengan kedatanganku yang tiba-tiba. Lalu mundur beberapa langkah menjauh dariku.

“Jangan takut. Kenalkan, aku Felicia dan ini temanku, Riana. Ini, kubawakan makanan untuk kalian,” kataku sambil menyodorkan kantong kresek berisi makanan.  

Si adik tampak senang dan segera menjulurkan tangannya untuk meraih kanrong kresek yang aku sodorkan, namun si kakak menahannya.

“Jangan … ingat pesan ibu. Jangan sembarangan menerima pemberian dari orang lain,” kata si kakak mengingatkan.

Aku tersenyum. “Memang kita baru kenal, tapi makanan ini insyaallah halal. kok. Hari ini adalah hari ulang tahunku, dan aku ingin berbagi kebahagiaan dengan kalian.”

“Ayo. Ambillah!” kataku sambil kembali menyodorkan kresek tadi.

Si adik menatap penuh harap kepada si kakak. Setelah berpikir sejenak, akhirnya si kakak mengangguk. Si adik tersenyum dan sedetik kemudian, kresek itu sudah berpindah ke tangannya.

Aku senang mereka mau menerimanya.

“Terimakasih, semoga Kakak panjang umur dan sehat selalu,” kata si kakak.

Aku mengaminkan doa mereka dalam hati.

“Kalau begitu kami permisi dulu.” Si kakak segera menggandeng tangan si adik untuk beranjak dari tempat itu.

“Hhmm … kenapa gak di makan di sini aja makanannya?” tanyaku hati-hati, takut mereka tersinggung, begitu melihat mereka bersiap untuk beranjak pergi.

“Bukankah kalian belum makan dari tadi?”

“Kami akan membawa makanan ini pulang dan memakannya bersama ibu kami. Beliau pasti senang. Sudah hampir satu minggu, kami hanya mampu membawakan makanan sisa untuk beliau. Uang yang kami dapat dari hasil memulung, kami jadikan untuk membeli obat ibu,” jelas si kakak dengan wajah sendu.

“Kasihan beliau. Badan beliau semakin kurus karena penyakit yang terus menggorogoti tubuh rentanya.” Si kakak menyeka butiran bening yang menyeruak dari sudut matanya.

Kali ini, aku benar-benar terenyuh. Nanar kutatap langkah kedua kakak beradik itu, yang perlahan mulai menghilang dari pandangan.

Hari ini, tepat di hari ulang tahunku yang ke tujuh belas, Allah mengajariku tentang arti “bersyukur” lewat mereka. Betapa selama ini aku tidak pandai bersyukur atas nikmat yang telah Allah limpahkan kepadaku. Betapa banyak orang di luar sana yang kehidupannya tidak seberuntung diriku.

Nikmat Tuhan mana lagi yang kamu dustakan?


Tulisan ini telah lulus review oleh editor dan layak publish.
Copyright © Al Right Reserved 2020
Writing Prodigy Academy

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published.