SUAMIMU MENIKMATINYA (Part 22)

Zanti
Follow me
Latest posts by Zanti (see all)

AKUR

Beberapa hari semenjak kami dari rumah Kak Irma, kami tidak menerima kabar darinya. Aku merasa khawatir dan mencoba menghubungi bibi, tetapi tak pernah dijawab. Aku dan Mas Ridwan pun berusaha ke rumahnya. Berharap bisa bertemu. Namun, selalu sepi dan terkunci. Kami merasa bingung.

*****

Bakda magrib, aku sedang menyiapkan makan malam bersama ibu. Tiba-tiba terdengar bunyi bel rumah. Aku segera menghampiri dan membukakan pintu. Aku terkejut. Tak kusangka, itu Kak Irma.

“Kak Irma!” Aku langsung memeluknya dan segera menyuruhnya masuk. Dia hanya diam, lalu aku memanggil Mas Ridwan dan ibu. Aku membawakan Kak Irma secangkir teh.

“Kak Irma! Bagaimana kabar Kakak?”

“Aku baik, Aini.”

“Kak. Kakak kemana saja? Lalu, kenapa kakak malam-malam ke sini? Kakak sedang hamil, gak baik keluar malam seperti ini. Kalo ada apa-apa, Kakak bisa menghubungi kami.”

“Aku ke sini hanya mau bilang, aku sudah mengajukan promosi kerja di Singapura. Aku akan melahirkan di sana dan tinggal di sana. Besok lusa, aku akan ke Surabaya, ke kantor pusat. Setelah dari Surabaya, aku langsung ke Singapura. Aku juga ke sini untuk memohon ampunan darimu. Aku kakak yang jahat. Aku adalah kakak yang hina. Yang demi dendam, aku mau melakukan segala cara, bahkan menggoda suamimu. Dendamku yang teramat besar kepada bapak malah menghancurkan keluarga kecil adikku sendiri. Aku salah, aku ingin bertaubat dan memulai hidup baru. Aku tidak akan mengganggu keluargamu lagi. Maafkan aku, Aini. Maafkan aku!” ucapnya sembari turun dari kursi dan bertekut lutut di depanku.

Aku menangis dan berusaha membangunkan badannya.

“Kak! Ini sepenuhnya bukan salahmu. Ini salah kita semua. Tanpa sadar, kesalahan orang tuaku menciptakan kau jadi seperti ini. Kau juga korban, Kak. Aku mengerti posisimu. Bangunlah, Kak. Aku adalah adikmu. Sampai kapanpun, kau akan jadi kakakku.”

“Tapi Aini, aku sudah berdosa besar padamu, pada suamimu, bahkan pada anakmu. Aku hina, Aini. Hina!”

“Jangan bicara seperti itu, Kak. Aku sudah memaafkanmu. Bahkan saat aku tahu kau kakakku, aku benar-benar menyayangimu. Bangun, Kak. Aku mohon bangunlah!” Aku memeluknya dan menangis.

Baca juga :  APA ITU CERBUNG?

“Ridwan, maafkan aku. Aku adalah wanita jahat. Aku memang tak pantas untukmu. Jagalah Aini. Aku mohon maafkan aku?”

“Iya, Kak. Ini adalah kesalahan kita. Semoga Allah menerima taubat kita,” jawab Mas Ridwan yang ikut mencoba membangunkan Kak Irma.

“Ibu, maafkan aku. Dulu, sepenuhnya aku menyalahkanmu dengan bapak. Aku tak tahu apa itu cinta, arti cinta, bahkan merasakan cinta, yang aku tahu hanya dendam, dendam, dan dendam begitu menggebu. Maafkan aku, Bu.”

“Nak, Ibu yang minta maaf. Tanpa sadar, kami begitu jahat padamu dan pada ibumu. Namun, ini jalan takdir yang harus kita jalani bersama-sama. Ibu hanya pasrah kepada Allah, semoga kesalahan ibu di maafkan olehnya dan olehmu, Nak.” Ibu menangis dan memeluk Kak Irma.

“Ka Irma, janganlah pergi. Aku mohon, setidaknya aku bisa melihat dan bersamamu terus. Kak, apa kau tak kasian pada anakmu juga?”

‘Tidak, Aini. Ini adalah kesalahanku. Biar aku yang menanggung semuanya. Jika aku terus di sini, aku hanya akan merasakan sakit dan rasa malu. Anakku akan terus bersamaku. Akan kudidik dia dengan baik, sepertimu yang memiliki welas asih.”

“Kak, kalo bisa aku mohon, untuk malam ini saja. Menginaplah di sini agar kau bisa merasakan keluarga seutuhnya, agar aku bisa mengenangmu dalam kebersamaan kita. Aku mohon, Kak?”

“Tapi, Aini!”

“Tidak ada tapi-tapian. Aku memohon. Lagi pula, ini sudah malam. Kau sedang hamil, Kak.”

“Baiklah, Aini. Untuk malam ini saja, aku akan menginap di sini.”

Aku tersenyum dan merasa bahagia saat dia mau menginap di sini. Aku langsung mengajaknya makan malam. Lalu, melaksanakan salat isya berjamaah dan bercengkrama semalaman.

Tepat jam 11 malam, kami memilih beristirahat. Aku tidur dengan Kak Irma, ibu dengan anakku dan Mas Ridwan di sofa.

Aku menatap langit-langit kamar.

“Pak, hari ini aku Bahagia. Kak Irma sudah sadar akan semua kesalahannya. Sekarang kami akur,Pak, seperti yang Bapak harapkan.”

Lalu, aku menatap wajah Kak Irma yang tidur di sampingku. Dia begitu cantik. Rasanya dia tertidur dengan begitu tenang. Aku merasa bahagia memiliki seorang kakak. Kami tidur dalam satu selimbut. Aku langsung memeluknya dan menahan tangis di kelopak mata. Akupun tertidur di sampingnya.

Bersambung …


Tulisan ini telah lulus review oleh editor dan layak publish.
Copyright © Al Right Reserved 2020
Writing Prodigy Academy

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published.