SUAMIMU MENIKMATINYA (THE END)

Zanti
Follow me
Latest posts by Zanti (see all)

AKHIR CERITA PENUH TANGISAN

Suara azan subuh berkumandang. Aku segera bangun dari tempat tidur. Aku kaget. Kemana Kak Irma? Dia sudah tak ada. Aku mencarinya ke kamar mandi, aku mencarinya ke setiap ruangan rumah. Aku tanya pada ibu dan Mas Ridwan, tapi tak ada yang melihat.

Kami bingung. Apakah Kak Irma sudah pergi? Kenapa dia tak bilang dan kenapa selarut itu? Dia kan sedang hamil? Kami semua bingung harus mencari kemana lagi?

“Bibi. Iya, bibi. Aku harus mencari rumah bibi.”

Menjelang siang, aku dan Mas Ridwan berusaha menanyakan kepada tetangga Kak Irma di mana rumah bibi.

Dan alhamdulilah, aku diberi info dari warung depan bahwa pembantu Kak Irma rumahnya dekat, hanya selisih dua gang. Kami langsung ke sana dan alhamdulilah bibi ada di rumahnya.

“Assalamu’alaikum,” ucapku sembari mengetuk pintu.

“Wa’alaikumsalam,” sahut seseorang dari dalam rumah.

“Bibi. Alhamdulilah, aku bisa bertemu denganmu, Bi.”

“Eh, Mbak. Saya nyari alamat Embak kemana-mana. Saya gak tau rumah Embak. Ada kabar yang harus saya sampaikan.”

“Saya sering nelpon Bibi, tapi gak pernah ada kabar dan gak pernah dijawab.”

“Masa sih, Mbak? Gak ada. Serius, Mbak.”

“Kemarin, Kak Irma ke rumah dan nginep di saya, tapi pagi-pagi dia udah gak ada. Apa Bibi tahu Kak Irma sekarang di mana? Rumahnya kok kosong terus sih, Bi?”

“Masak Nyonya ke rumah Mbak, sih? Nyonya kan udah meninggal!”

Aku sontak kaget dan terkejut mendengar itu. “Apa! Wah, Bi. Jangan gitu, dong. Jangan becanda yang aneh-aneh. Masak Bibi ngedoain Kak Irma meninggal.”

“Lho, Mbak gak tahu, ya? Makanya, saya cari-cari alamat Embak, tapi gak ketemu-ketemu. Malamnya setelah bertemu keluarga Mbak, Nyonya bunuh diri di kamarnya. Beliau meminum penenang sebanyak 25 butir dan overdosis, Mbak,” sahutnya sembari menangis

“Bi! Serius, Bi. Saya gak suka becanda, Bibi!” Aku marah dan bertanya dengan nada keras.

“Iya, Mbak. Beliau langsung dibawa ke rumah sakit, namun tidak tertolong. Karena tidak ada keluarga dan polisi kira Nyonya hidup sebatang-kara, jadi dari pihak kepolisian dan rumah sakit langsung menguburkan beliau.”

“Bibi. Jangan buat akugila. Aku gak percaya.”

“Bener, Mbak. Bahkan, pihak kepolisian menemukan beberapa surat. Kalo Mbak gak percaya, Mbak bisa dateng langsung ke kantor polisi buat nanyain itu.”

Aku menangis dan memeluk Mas Ridwan. Rasanya ini mimpi. Aku berharap ini mimpi.

“Apakah Bibi tahu kuburan Kak Irma?” tanyaku sambil menangis.

Baca juga :  SUAMIMU MENIKMATINYA (Part 19)

“Saya tahu, Mbak. Mari saya antar, tapi lumayan jauh dari sini.”

Sepanjang jalan, aku menangis seakan tak percaya dan berharap ini mimpi.

Sesampainya di pemakaman, Bibi langsung menuntunku ke sebuah kuburan. Dan betapa terkejutnya aku saat melihat nama di kayu nisannya.

Aku langsung tersungkur di kuburan yang masih merah itu. Aku hanya bisa menangis dan menjerit. Seakan semua ini mimpi. Lalu, siapa kemarin yang datang ke rumahku? Siapa yang kemarin meminta maaf, bahkan tidur bersamaku? Aku dan Mas Ridwan begitu terpukul dan merasa heran. Setelah dari kuburan, aku segera ke kantor polisi dan menanyakan apa yang terjadi.

“Selamat siang, Pak. Kami dari keluarga Irma Anggraeni. Kami ingin menanyakan data forensik dan penjelasan kenapa beliau bisa meninggal?” ucap Mas Ridwan.

“Jadi begini, Pak. Atas nama Irma Anggraeni yang meninggal kurang lebih satu minggu yang lalu. Beliau meninggal karena overdosis, meminum obat penenang. Jadi, selama ini beliau memang mengkonsumsi obat tersebut. Namun pada malam itu, beliau langsung meminum 25 butir obat sehingga beliau meninggal karena overdosis. Begitu ceritanya, Pak. Setelah kami selidiki juga akhirnya kami menemukan beberapa surat di lemarinya. Dan ternyata itu alasan beliau bunuh diri. Dia tak punya saudara, tak punya siapapun lagi di dunia ini. Jadi, beliau lebih memilih mengakhiri hidupnya. Karena kami piker beliau memang sebatang-kara, jadi kami segera menguburkan beliau. Beliau juga meninggal dalam keadaan hamil tiga bulan. Jika betul kalian keluarganya, kami bisa menyerahkan beberapa surat, kunci brankas, dan kunci rumah.

Aku hanya bisa menangis dan terus menangis. Kemudian, kami ke rumah Kak Irma. Semua kenangan dan foto menjadi sesal dan kesedihan. Aku ke kamarnya dan membuka brankasnya. Aku langsung terfokus ke sepucuk surat yang di luarnya sudah ada namaku.

[Untuk Aini, adikku. Aku mencintaimu. Kau adikku satu-satunya. Kau yang memberikan aku cinta. Kau juga yang menyadarkan aku dan meredam dendamku. Maaf jika ketika kau menerima suratini, aku sudah tak ada lagi di dunia ini karena jika aku masih hidup, aku tak bisa menanggung malu dan menanggung rasa bersalahku. Aku membawa anakku dalam kandungan pergi bersamaku. Aku tak ingin anakku lahir dengan tahu bahwa ibunya jahat dan tak punya hati. Aku masih kakakmu kan, Aini, adikku? Maafkan semua kesalahan Kakakmu ini, ya. Aku mencintaimu, Adikku. Semua warisanku sudah aku tuliskan di brankasku. Semua sudah atas nama anakmu, sebagai permohonan maafku padanya. Bahagialah selalu dan bangun keluarga yang baik. Jangan seperti aku. Aku mohon.]

Aku menangis, terus menangis. Innalillahi wainaailaihi roji’un. Aku berjanji akan terus kuselipkan namamu dalam setiap selesai salatku, Kak. Aku berjanji, Kak.

Tamat.


Tulisan ini telah lulus review oleh editor dan layak publish.
Copyright © Al Right Reserved 2020
Writing Prodigy Academy

Facebook Comments

9 Comments










Leave a Reply

Your email address will not be published.