TAJWID CINTA MARIA (Part 2)

Dayang Sumbi
Follow me
Latest posts by Dayang Sumbi (see all)

KEHENDAKMU

Suara azan menggema dari mushola sebelah rumah kontrakan, bahkan dari jendela kamar bisa melihat orang yang sedang melakukan aktifitas di sana. Aku duduk di tepi ranjang melihat orang-orang yang sedang mencuci muka dan tangan mereka di sebelah kiri mushola.

“Cis, kita ke mushola dulu ya!” Nia dan Ajeng sudah memakai kerudung putih yang aku tahu namanya mukena, tinggal aku termenung sendiri mengintip kegiatan di bangunan berwarna hijau itu. Ada perasaan malu, mengapa hanya aku saja yang tidak pergi ke tempat itu.

Malem jumat wong kubur buka lawang
Nyuwun kiriman saking ayat suci Al-Quran
Nanging wong ndunyo ora podo ngirimi
Maleh wong kubur udan tangis mbrebes mili

Ada seseorang yang sedang menyanyi di mushola setelah azan tadi, aku menyimak seperti biasa dengan duduk di ranjang menatap luar jendela. Di mushola sebelah kontrakan sudah banyak orang bersiap untuk beribadah, Nia dan Ajeng sudah pamitan tadi. Berulang kali orang itu mengulangi syair, dalam hati aku mengikuti. Namun, mengapa hati serasa pilu. Mencoba mengartikan makna syair lagu tadi. Banyak orang mati meminta doa dari keluarga, mengapa mereka tidak mau kirim doa? Bukankah gampang saja seperti mengucap doa Bapa kami, tidak butuh waktu lama kan.

Mushola itu hanya berukuran 7×10 meter, dan selalu penuh saat senja begini. Masih memperhatikan mereka yang sudah berbaris rapi, laki-laki di kanan sedangkan yang perempuan di kiri tetapi tidak jelas sebab ada kain hijau yang menutupi. Ingatanku kembali ke rumah, mami papi kalau beribadah sekarang di mushola depan. Entah berapa kali sehari namun kata Ajeng umat Islam itu beribadah 5 kali sehari, itu belum termasuk tambahan. Berarti mereka sekarang juga sedang beribadah, apa juga tidak kirim doa ya buat mbah Kung yang sudah meninggal.

Tuuttt tuuttt tuuut …

Mencoba menghubungi mami melalui ponsel namun gak di angkat, mungkin di dapur sehingga tidak mendengar. Telpon rumah saja.

“Hallo?”

“Mami___.”

“Ibu, sholat, Mbak.” Mbak Mi pembantu mami ternyata yang menerima, ke mana mami?

“Sholat ndek mana?”

“Di mushola, Mbak. Nanti telpon maneh yo!”

“Aah … anu, Mbak. Pean nusul o, Mami, ya!”

“Lo yo gak boleh lo kalau belum selesai sholat, enek opo to?”

“Haduuhh, kalau selesai sholat e ya keburu lupa.”

“Piye to, orang sholat itu ndak boleh bicara kecuali baca doa!” Sedikit kesal karena Mbak Mi membantah.

“Lo ya iku Mbak Miii, aku mau mbilangi Mami jangan lupa doa buat Kung. Sebab malam Jumat gini Kung minta doa, duuhh kalau Mami lupa kan kasihan Kung nangis!”

“Oo iku wes paham, ndek sini sekarang tiap malam jumat ada baca Yasin bersama setelah mahgrib.”

“Yasin? Memang e dia tahu rumahku, kan dia juga lagi magang Mbak!” Heran sih kenapa Yasin ada di sana, padahal tidak seorangpun teman sekolah yang tahu rumahku.

“Piye to? Moco surat Yasin, Mbak Mar!”

“Emang e Yasin kirim surat buatku?”

“Haduh emboh wes, kok bingung aku!” Mendengus kesal bicara sama Mbak Mi, kok jadi bawa-bawa si Yasin.

“Yo wes, pokok e bilangono Mami kalau suruh doa buat Kung malam ini! Awas sampai lupa.”

“Iyo wes dikirimi Yasin, Mbak!” Mbak Mi malah ganti berteriak.

“Jangan Yasin yang di suruh, dia iku temanku. Kok goblok se, Pean, iki?!”

Langsung aku akhiri telpon, percuma bicara sama Mbak Mi yang cuma tahu bumbu dapur saja. Setelah mushola bubar aku duduk di ruang tamu, Nia dan Ajeng sudah kembali pulang, ingin ngajak mereka membeli bakso di perempatan dekat rumah Kaur Umum.

“Nia, beli bakso yok!”

“Sek nanti ae, Cis, aku mau ngaji Yasin dulu!” Ajeng malah yang menjawab sedangkan Nia hanya meringis saja.

“Hah?” Melotot mendengar Yasin disebut lagi oleh Ajeng, apa sih?

Mengikuti Ajeng yang duduk bersila di pojok kamar, ada buku tebal ditangannya. Sebentar kemudian dia membaca sesuatu yang aku tahu itu bahasa Arab, duduk di sebelah pintu mendengarkan suara Ajeng yang lumayan bagus. Tadi katanya sama Yasin kok gak datang-datang dia?

Baca juga :  SUAMIMU MENIKMATINYA (Part 15)

“Nia, katanya Yasin datang. Mana?”

“Hahaha … hahaha ….” Nia malah terbahak, membuatku makin tidak mengerti. Akhirnya kami saling diam mendengarkan Ajeng hingga selesai membaca.

“Jeng, itu si Marimar tanya si Yasin.”

“Yasin?” Ajeng malah mengernyitkan dahinya.

“Tadi kamu bilang ngaji sama Yasin, la mana dia gak datang kok?”

“Hahaha … hahaha ….” Mereka berdua tertawa.

“Yasin itu surat di Al-Qur’an, Mar! Bukan si Yasin gendut itu.”

“Dasar, Marimar, tahunya Yasin gendut!”

“Eehhmm … kenapa dibaca malam Jumat? Tadi kata pembantuku, Mami juga lagi baca Yasin di mushola.” Mulai paham bahwa Yasin bukanlah nama teman sekolah kami.

“Mamimu, Islam?” Mereka bertanya bersamaan sambil berpandangan, aku mengangguk.

“Kok kamu Kristen?”

“Ya mami papi jadi mualaf sekarang, ayolah kenapa?”

Ajeng menyeretku agar mau duduk di ranjangnya, meksipun sungkan tapi menurut saja masuk ke kamarnya. Kami berteman biasa saja dan baru akrab karena satu kelompok magang, itupun jarang  mengobrol hal pribadi.
“Surat Yasin dibaca itu salah satu manfaatnya untuk mendoakan dan menghormati orang-orang yang sudah meninggal. Terutama pada malam Jum’at begini, tapi masih banyak manfaatnya untuk kita yang membaca. Salah satunya memperpanjang umur, dan selalu pada jalan yang benar.”

“Apa tidak ada tulisan latin agar aku bisa baca?”

“Ya gak boleh kamu baca, kamu kan Kristen. Sebelum baca kamu harus wudhu dulu! Kenapa sih kamu gak ikut mualaf sekalian?” Nia yang suka bicara ceplas-ceplos langsung saja nyerocos, apa aku harus bilang ke mereka kalau juga mau menjadi mualaf seperti mami papi ya? Tapi aku harus belajar dari mana dan pada siapa? Ah entahlah, aku masih belum percaya mereka. Takutnya malah menyebarkan gosip ini, dan jadi ejekan teman-teman di sekolah.

Malam ini aku gelisah tidak dapat tidur, koko Yohan tidak menghubungi seharian. Marahkah dia karena aku ingin menjadi mualaf?  Kalau koko tidak mau berteman denganku lagi bagaimana, sedangkan teman-temanku juga temannya. Kalau mereka menjauh siapa lagi temanku?

Jumat pukul sebelas kami sudah pulang dari kantor kecamatan tempat magang, karena mereka akan beribadah sholat jumat. Aku lihat si Yusuf bersama dua temannya pergi ke arah masjid besar di sebelah utara, mengapa mereka tidak sholat di mushola seperti biasanya?

“Jeng, kenapa kalian tidak pergi sholat Jumat juga? Tuh si Yusuf cs udah pergi.”

“Karena sholat Jumat tidak wajib bagi wanita, Mar!”

“Ooo!”

“Kamu baca buku fikih wanita atau belajar Islam kalau ingin tahu!”

“Apa itu fikih?”

“Fikih itu adalah salah satu bidang ilmu dalam syariat Islam yang secara khusus membahas persoalan hukum yang mengatur berbagai aspek kehidupan manusia, baik kehidupan pribadi, bermasyarakat maupun kehidupan manusia dengan Allah.” Ajeng yang otaknya lebih encer dari Nia menjelaskan detail.

“Ooo, dijual bebas?”

“Iya, aku punya kalau mau nanti pas pulang aku bawakan.”

“Ndak usah, mungkin mami punya.”

“Ya bagus lah.”

“Ngaji itu susah ya, Jeng?”

“Gak juga, semua bisa dipelajari!”

Aku melihat Nia yang sedang sibuk dengan ponselnya, “Trus Nia kenapa kamu gak pernah ngaji seperti Ajeng?”

“Hehehe, aku juga gak bisa ngaji.” Nia nyengir dan disambut tawa Ajeng.

“Kamu Islam kok gak bisa ngaji? Trus baca doanya piye?”

Nia menunduk membuatku merasa bersalah karena menghakiminya tanpa tahu  alasan, tetapi wajar kan pertanyaanku. Mami yang mualaf saja bisa ngaji, kenapa Nia yang sudah Islam sejak kecil malah gak bisa.

“Ya aku baca latinnya, Cis, sebenarnya pingin belajar tapi rumah jauh dari masjid yang ada TPAnya.”

Cis, Nia suka manggil aku Cis karena ada Siska di belakang namaku. Ajeng ikutan memanggil Cis juga, sebab agar berbeda dengan Marlina dan Markonah teman kami satu kelas.

“TPA yang banyak pemulung itu?”

“Hahaha.” Mereka tertawa lagi, apa aku salah mengartikan lagi?

“Tempat Pendidikan Al-Qur’an bukan Tempat Pembuangan Akhir, itu sekolah membaca Al-Qur’an.”

“Ooo, mahal ya?”

“Ndak, malah banyak yang gratis.” Gratis? Seriuskah apa yang mereka bilang, belajar bahasa asing gratis. Gak mungkin, aku les bahasa Inggris saja satu semester sama dengan uang saku satu bulan. Gurunya siapa yang bayar, mereka pasti bercanda.

Bersambung …


Tulisan ini telah lulus review oleh editor dan layak publish.
Copyright © Al Right Reserved 2020
Writing Prodigy Academy

Facebook Comments

22 Comments























Leave a Reply

Your email address will not be published.