TERPAKSA JAUH

Oleh Femilia Utami Dewi


Aku Aisyah. Terlahir sebagai anak pertama dari pasangan muda yang terpaksa jauh dari kampung halamannya. Sebelum menikahi ibu, ayah diterima bekerja di sebuah BUMN di Situbondo, Jawa Timur. Ibu dan ayah jatuh cinta pada pandangan pertama di kota Blitar, Jawa Timur.

Situbondo adalah kota yang sangat asing bagi Ibu. Tak punya sanak saudara apalagi kerabat. Tapi Ibu berusaha tegar dan sabar demi harapan masa depan. Adikku lahir saat usiaku masih 16 bulan. Jarak kami sangat dekat tapi ibu dan ayah sangat bahagia karena adikku laki-laki. Lengkap sudah kebahagiaan keluarga kecil kami.

Ayah mengalami kemajuan sangat pesat di karirnya. Kami sudah bisa pindah kontrakan yang lebih besar. Ibu dan ayah sudah berhasil membeli sepetak tanah sebagai tempat untuk rumah masa depan kami. Masih teringat lekat pada ingatanku. Mainan yang aku dan adikku miliki pasti lebih bagus dan lebih banyak dari pada anak tetangga sekitar. Tiap hari kami beli kue atau beli ayam goreng. Ada di album foto keluarga, saat aku bayi memegang paha ayam goreng pada tangan kanan dan kiri.

Situbondo kota yang panas karena terletak di pesisir pantai utara. Walau rumah kami kontrakan tapi kami sudah memiliki kipas angin, televisi hitam putih, rice cooker dan radio yang saat itu cukup canggih. Sungguh masa kecil yang sangat menyenangkan.

Tapi seperti halnya roda berputar, kehidupan tak selamanya berada di atas. Entah dari mana asal muasalnya. Ayahku kecanduan judi. Sehingga tanpa sepengatahuan ibu, ayah dipecat dari jabatannya. Saat itu ibu sedang hamil adikku yang kedua. Hancur hati ibu, mendengar ayah sudah tak bekerja lagi.

Banyak orang menagih hutang ke rumah kami. Ayah lari entah kemana. Ibu sebatang kara. Terpaksa ibu menjual semua barang berharga yang kami miliki untuk sekedar menyambung hidup dan untuk biaya melahirkan. Puncaknya ayah pulang dengan wajah kusut masai dan meminta maaf kepada ibu, karena  menabrak seseorang saat mengendarai sepeda motor untuk sekedar mencari nafkah sebagai tukang ojek, belum lagi sepeda motor yang digunakan ayah adalah sepeda motor sewaan.

Aisyah kecil tumbuh melewati masa senang dan susah. Terasah oleh keadaan. Menjadi gadis kecil yang mandiri dan peka terhadap keadaan. Melihat ayah hampir dipenjara, hati Aisyah kecil menangis, dan berjanji akan membuat ibu tersenyum. Alhamdulillah, ayah tidak jadi dipenjara. Ibu memilih jalan damai dengan mengganti kerugian yang dialami korban dengan menjual sebidang tanah satu-satunya milik kami.

Mungkin sudah menjadi suratan takdir dan hadiah Allah bagi kami. Ibu mendengar siaran radio tentang pengangkatan guru Sekolah Dasar. Berbekal ijazah SPG (Sekolah Pendidikan Guru), ibu mendaftar dan mengikuti tes menjadi Calon Pegawai Negeri Sipil. Di luar dugaan ibu diterima menjadi Guru SD.

Ayah sudah bertobat dan mencoba mencari pekerjaan sebagai sopir truk. Walaupun ayah sering meninggalkan ibu, tapi ibu berusaha tegar. Aisyah kecil menjadi tangan kanan ibu. Saat kelas 1 (satu) SD, aku sudah bisa melakukan pekerjaan rumah. Menanak nasi, mencuci piring, mencuci baju, dan membantu membersihkan rumah. Aku juga membantu ibu merawat adik-adikku. Walau gaji ibu sangat pas-pasan, tapi kami bahagia. Terkadang masih ada saja orang datang ke kontrakan kami untuk menagih utang judi ayahku. Tapi ibuku tak putus asa, malah ibuku kuliah S1 di suatu universitas swasta.

Terkadang kami bertiga ditinggalkan di rumah, saat ibu sedang kuliah sore sampai malam. Terkadang kami ditemani kakek kami yang berkunjung dari kota Jember, Jawa Timur. Kami tidak pernah keberatan dan tidak takut ditinggal. Karena kami tahu, ibu berjuang untuk kami.

Bagiku ibu sosok yang sangat tegar, sabar, dan pemaaf. Menjadi inspirasi bagiku sampai akhir hayat, mungkin di titik inilah tanpa sadar aku ingin menjadi guru. Tekadku membuat ibu tersenyum, mengantarkan diriku selalu menjadi juara kelas. Terlebih saat ibuku dimutasi di sebuah SDN kecil pinggiran kota. Aku semakin berprestasi. Selalu menjadi juara kelas. Hingga mengantarku melanjutkan SMP (Sekolah Menengah Pertama) di SMP favorit kota Situbondo.

Jarak SMP ke rumah lumayan jauh sekitar 5 km. Ayah membelikanku sepeda mini bekas, sebagai alat transportasiku. Terkadang lucu teman-temanku menjuluki sepedaku dengan “Sepeda Perang”, mungkin karena sepedaku sangat jelek atau karena semangatku yang tinggi. Alhamdulillah, walau sepedaku jelek dan terkadang rusak, aku tak patah semangat. Terkadang, aku memompa ban sepedaku saat berangkat dan pulang sekolah.

Mungkin karena fisikku terlatih dengan bersepeda setiap hari. Guru olahraga memintaku mengikuti kejuaraan lari jauh tingkat Kabupaten. Tak disangka aku menang. Piala yang kudapat sangat tinggi, hingga hampir melewati tinggi badanku, belum lagi sejumlah uang tabungan yang kuperoleh, sangat meringankan beban ibuku untuk membayar SPP.

Selama kurang lebih 5 (lima) tahun ayah sering kerja ke luar kota. Ayah memutuskan untuk menajdi kenek angkutan umum saja di kota kami. Awalnya ayah menanyakan kepadaku, apakah aku malu sekolah di SMA favorit dengan profesi ayah sebagai kenek angkutan umum. Aku jawab, pekerjaan ayah halal, ayah kumpul bersama kami saja, kami sangat bahagia.

Mulailah ibu dan ayah membangun impian lagi bagi kami semua. Berhasil membeli sepetak tanah lagi dan mampu mengkredit angkutan umum milik sendiri. Aku juga mulai membangun cita-cita. Awalnya aku ingin menjadi atlit lari jauh proesional, tetapi Allah berkehendak lain. Kakiku cedera saat latihan, hingga pupus sudah harapanku.

Baca juga :  TERLAMBAT

Cita-citaku berubah ingin menjadi Polwan. Aku mengikuti kegiatan kepramukaan di Satuan Karya Pramuka milik kepolisian, yaitu Saka Bayangkara. Malah sempat mewakili saka tersebut dengan mengikuti Perkemahan Raimuna Daerah di luar kota. Tapi tubuhku yang mini, sangat jauh dari kata ideal untuk menjadi Polwan. Pupus lagi harapan menjadi Polwan. Saat lulus SMA, aku mencoba tes di jurusan Teknik suatu universitas negeri, dan tidak lolos. Ibu menasehatiku agar menunda kuliahku selama setahun sebab adik-adikku masih butuh biaya lumayan banyak dan kreditan usaha ayah masih banyak juga.

Kecewaku membuncah. Darah mudaku menggelegak ingin kuliah. Tapi kondisi ekonomi yang kurang mendukung, membuat aku ingin bekerja dan mencari uang sebagai modal kuliah. Selama kurang lebih setengah tahun aku menganggur. Pada suatu hari aku mendapat panggilan dari Dinas Tenaga Kerja kabupaten, karena memang aku sudah mendaftar sebagai pencari tenaga kerja.

Ternyata ada peluang kerja yang sangat menggiurkan. Yaitu, kerja di Pulau Batam. Wow, dengan gaji yang sangat menggiurkan bagiku, aku sangat antusias. Aku mengikuti tahapan tes dengan semangat, walau harus jauh sampai ke kota Jember. Berbekal restu ibu, alhamdulillah aku diterima bekerja di salah perusahaan ternama milik negara Jepang.

Ayah sangat berat dengan kepergianku, beliau tidak mau bicara padaku. Tapi, aku sudah sangat ingin bekerja dan mendapatkan uang sendiri. Tubuhku yang mungil menyandang tas yang lumayan besar. Berangkatlah aku sendiri ke Batam hanya diantar ibu dan seorang adikku.

Aku harus terpaksa jauh. Bekerja di Pulau Batam. Demi mengerjakan cita-citaku yaitu kuliah. Dengan berbekal uang tidak lebih dari Rp 100.000,00. Aku mencoba hidup mandiri, bekerja, dan jauh dari orang tua. Perusahaan tempatku bekerja adalah salah satu perusahaan industri yang cukup maju. Pabrik bekerja selama 24 jam. Sehingga para pekerja, disebut operator, bekerja dalam 3 (tiga) shift. Tak jarang malah operator harus bekerja selama 12 (dua belas) jam dikarenakan target produksi yang sangat tinggi. Benar–benar menguras tenaga dan pikiran. Alhamdulillah kesibukan kerja yang padat membuatku betah dan sedikit mengobati rasa rindu yang membuncah kepada keluarga da kampung halaman. Di sela-sela kesibukanku, aku masih menyempatkan diri untuk belajar ilmu agama dengan mengikuti beberapa kajian keislaman.

Saat-saat yang paling menyedihkan adalah pada bulan Ramadhan dan Hari Raya. Kerinduanku memuncak, dan kami sesama perantauan hanya bisa menangis sambil berpelukan. Sebagai pengobat rindu biasanya aku menelpon ibu dan ayahku pada telepon umum atau wartel. Ibu dan ayah saat itu belum memiliki telepon sendiri. Hanya Kepala Desa dan beberapa warga kaya yang memiliki jaringan telepon. Sehingga aku harus meminta tolong kepada bapak Kades untuk menghubungi ibuku, dan menelepon beberapa saat kemudian. Terbayang betapa repotnya saat itu. Jika rinduku memuncak, biasanya aku juga berkirim surat kepada keluarga, sahabat, dan teman-temanku.

Tak terasa sudah hampir habis masa kontrakku di Batam dua tahun. Ternyata aku betah bekerja di Batam, bayangkan baru lulus SMA langsung merantau dan dua tahun tidak pulang sama sekali.  Punya banyak teman dan saudara baru. Kebetulan departemenku supervisor-nya baik. Beliau mendukung keinginanku untuk kuliah dan menyarankan kuliah di Batam saja. Kebetulan tahun depan akan ada universitas baru yang dibuka di Batam.

Segera aku menelpon ibuku, dan berkata bahwa aku tidak pulang setelah habis kontrak kerjaku. Tapi insyaAllah berjanji akan pulang beberapa bulan kedepan, sebab aku ingin kuliah dan melanjutkan kontrak kerjaku di Batam. Melambung mimpiku saat itu. Menggebu harapanku ingin kuliah di Batam. Tapi ayah berkata lain. “Nduk jika besok kamu tidak pulang maka seterusnya jangan pulang,” lembut ayahku berujar. Bagai bara terkena hujan, bagai krupuk tersiram air. Langsung lunglai tubuhku, pupus harapanku. Aku sangat cinta keluargaku. Apalah arti diriku tanpa ayah, ibu, dan adik-adikku.

Besok aku aku harus pulang. Aku sujud panjang dalam sholatku. Aku menangis kepada Allah, mohon petunjuk, mohon dimudahkan jalanku pulang. Karena aku cinta keluargaku. Ya Allah, bantu hamba-Mu yang lemah ini.

Segera aku menghadap supervisor dan bagian administrasi dengan mengemukakan alasan sebenarnya. Alhamdulillah, semua dimudahkan. Ternyata ada temanku yang batal pulang, dan tiket pesawat terbangnya bisa aku pakai. Gajiku yang belum waktunya dibayar juga akan ditransfer kemudian oleh bagian administrasi keuangan. Barang-barangku sebagian kujual dibantu teman-temanku. Sebagian langsung kupaketkan. Aku pulang dengan tergesa-gesa tanpa pamit pada semua teman-temanku, hanya sebagian kecil saja.

Sebagian teman mengantarkanku ke Bandara Hang Nadim Batam. Suasana sangat haru, kawan karibku sekamar sampai bengkak matanya dan tak mau melepas genggamannya. Ya Allah. Entah apa yang akan kukerjakan saat pulang ke kampung halaman. Dengan nama-Mu aku melangkah didasari cinta dan akan kubangun mimpiku yang baru.


Tulisan ini telah lulus review oleh editor dan layak publish.
Copyright © Al Right Reserved 2020
Writing Prodigy Academy

Facebook Comments
Latest posts by Writing Prodigy (see all)

Leave a Reply

Your email address will not be published.