WANITA SHALIHAH

Femilia Utami Dewi
Latest posts by Femilia Utami Dewi (see all)

Saat aku mengikuti kegiatan pelatihan guru di Universitas Sebelas Maret, Solo. Aku berkesempatan bertemu kembali dengan sahabatku, Murni. Kami bertemu di Malioboro. Sambil duduk santai di kursi yang sudah tersedia di sepanjang trotoar Malioboro. Pertemuan yang sangat kami nantikan, sebab sudah lebih dari 20 tahun kami tidak berjumpa dan melepas rindu.

Kami menjerit kegirangan dan berpelukan, tak peduli tatapan aneh dan penuh selidik dari para wisatawan lokal maupun manca. Aku menangis, Murni juga menangis.

“Aisyah… Kamu jahat. Kenapa tiada kabar sama sekali?”

“Aduhhh… maaf Murni. Aku langsung merantau ke Batam. Kuliah. Kerja. Menikah. Dan jadi guru. Maaf ya. Eh…. Alhamdulillah kamu sehat dan cantik sekarang”

Kulihat memang Murni lebih cantik dari yang dulu. Murni memang putih dan tinggi. Tapi dia dulu tanpa make-up dan berkacamata tebal dengan model kuno. Sekarang kulihat model kacamatanya keren, dengan bibir yang terpoles lipstik tipis dengan warna serasi dengan pakaian hijabnya. Hmm… benar-benar cantik mempesona.

“Ah, Aisyah. Kamu juga semakin matang. Bicara dan pembawaanmu semakin dewasa dan bijaksana. Kamu memang cocok jadi guru SMK. Aku kan, hanya guru SMP. Kalah sama kamu,” rajuk Murni sambil terus menggenggam tanganku. Kami bercerita banyak tentang keseharian kami dan anak-anak kami. Tapi menginjak berbincang tentang suami, wajah Murni muram dan meneteskan air mata.

“Aisyah, maaf. Aku dalam proses perceraian dengan suamiku. Mohon doa dan dukunganmu ya,” Murni menunduk sedih dan mulai terisak.

“Ya Allah. Innalillahi. Apa yang terjadi dalam hidupmu? Mengapa kalian memutuskan untuk bercerai?” aku kaget dan penuh tanya.

“Aku ingin cerita banyak padamu Aisyah. Dan mohon pertimbanganmu. Apakah yang kulakukan ini sudah tepat?” Murni memandangku dengan tatapan penuh harap.

“Oke. Ayo, kita cari tempat yang lebih enak dan santai. Kita sholat dulu. Kemudian cari cafe atau rumah makan untuk makan siang, “ aku menarik Murni untuk berdiri dan menuju masjid terdekat.

Saat makan siang di Warung Gudeg Plengkung. Murni bercerita sambil menunggu pesanan kami datang.

***

Aku dan Mas Marno menikah saat tahun 2000. Dia melamarku setelah beberapa bulan berkenalan di tempat KKN(Kuliah Kerja Nyata). Aku memang belum mengenal Marno dengan baik. Tapi ayahku memberiku nasihat bila seorang pria sholeh melamar maka harus diterima.

Bismillah. Dengan nama Allah aku berusaha menerima jodohku. Saat KKN memang kami sering sholat berjamaah dan tumbuh benih cinta di hati kami. Kami resmi menikah di rumah dinas ayahku. Pernikahanku dengan Mas Marno lumayan mewah sebab ayah saat itu berstatus camat di kota kecil kami.

Aku langsung diboyong ke Malang. Tempat kami kuliah dulu. Sebab Mas Marno masih harus menyelesaikan kuliahnya yang sedikit tertunda. Aku juga mendapat ijin untuk mengamalkan ilmu mengajarku di salah satu SD dekat rumah kontrakan kami. Setahun kami jalani hidup bahagia berdua. Hingga aku hamil anak pertama kami dan terpaksa harus pulang kampung untuk melahirkan. Lahir bayi pertama kami, seorang anak lelaki. Kami beri nama Lanang Prakoso.

Memang benar pepatah orang tua. Adanya anggota keluarga baru mendatangkan rejeki bagi keluarga. Suamiku diterima bekerja di Solo. Sesuai dengan status sarjananya yang cukup keren, yaitu sarjana Farmasi. Jarak tempat kerja Mas Marno yang sangat jauh dari kota kelahiranku membuat kami harus menjalani Long Distance Relationship (LDR) selama hampir 2 tahun. Sangat tidak enak bagiku. Terlebih ayah selalu menyuruhku untuk mengikuti suami kemana pun dia bekerja. Wanita shalihah harus mendampingi suami dimanapun berada. Begitu ayahku selalu menasehatiku.

Aku dan Mas Marno berunding mengenai perpindahan kami. Akhirnya kami memutuskan hijrah. Untuk sementara aku dan anak pertama kami tinggal bersama kedua orang tua Mas Marno di Ngawi. Sedangkan Mas Marno tetap mengejar karirnya di Solo.

Disinilah kisah sedihku bermula. Maaf Aisyah, kalo aku bercerita agak panjang. Biar kamu lebih paham tentang kisah hidupku.

Aku benar-benar mengabdikan diriku sebagai istri shalihah dan juga sebagai wanita shalihah. Aku cukup tahu diri sebagai orang numpang. Tak mengapa kami diberi kamar di belakang rumah yang berukuran 2×3 m2. Mas Marno terpaksa hanya pulang dua pekan sekali walau jarak Ngawi-Solo cukup dekat. Aku tahu kesibukannya yang masih merintis karir.

Jika Mas Marno mau pulang aku disuruh pindah ke kamar depan. Semua tugas rumah aku yang mengerjakan. Ibu mertuaku hanya duduk manis dan memerintahku dengan sesuka hati. Masak, mencuci, setrika, mencuci piring, menyapu, dan mengepel selalu kulakukan tiap hari. Karena sangat sibuk aku rela tidak mencari tempat mengajar lagi. Sembari mengasuh anak aku selalu sibuk dengan pekerjaan rumah sehingga jarang bisa keluar rumah. Aku hanya bisa keluar rumah saat belanja pagi-pagi sekali ke pasar.

Pernah suatu hari aku kesiangan pulang karena angkot yang kunaiki mengalami ban pecah. Beruntung semua penumpang selamat. Setibanya aku di rumah aku berpapasan dengan beberapa ibu tetangga, tetapi mereka tidak seramah saat aku datang pertama kali. Pandangan mereka seperti marah dan mencemooh. Aku heran apa yang terjadi. Aku baru menyadari ternyata selama ini ibu mertua memfitnahku sebagai menantu yang tidak berbakti. Pekerjaanku di rumah hanya tidur dan menonton TV. Belanja kebutuhan di pasar hanya sebagai kedok agar aku bisa keluyuran keluar rumah. Astagfirullah bagaikan kisah sinetron benar hidupku. Ini kuketahui saat kudengar ibu tetangga sebelah rumah teriak-teriak menasehati menantunya agar tidak meniruku.

Tapi kebalikan dengan bapak mertuaku. Beliau pensiunan guru yang sangat baik. Sederhana dan tidak banyak bicara. Selalu mengalah, sangat bertolak belakang dengan karakter ibu mertua yang selalui menguasai keadaan. Setiap malam bapak mertua selalu menjenguk ke kamar dan melihat keadaan anakku.

“Wis turu anakmu, nduk?” (sudah tidur anakmu?)

“Nggih, pak. Sampun.” (iya pak, sudah)

Perhatian beliau kepada cucunya dan diriku cukup memberiku kekuatan untuk bertahan.

Jarang sekali aku bisa pulang ke rumah orang tuaku. Dengan jarak perjalanan darat lebih dari 10 (sepuluh) jam naik bus dan biaya yang tidak sedikit, cukup membuat suamiku keberatan karena ekonomi kami yang belum mapan.

Untuk membunuh rasa tertekan dalam diriku aku mencoba kembali mengajar di suatu SMP yang berada tidak terlalu jauh dari rumah mertua. Tentu saja dengan seijin suamiku. Aku beralasan agar ilmu yang kudapat saat kuliah tidak sia-sia. Alhamdulillah walau sedikit honor yang kudapat cukuplah aku tabung untuk biaya aku pulang kampung pada lebaran berikutnya. Aku belum membolehkan kedua orang tuaku untuk menjengukku di Ngawi. Kau takut mereka kecewa dan marah. Semua kupendam sendiri. Kucoba tidak bercerita apapun pada keluarga besarku. Aku berakting bahagia bersama keluarga mertuaku.

Tapi kesabaran itu ada batasnya. Puncak kesabaranku terjadi saat suatu siang sepulang aku mengajar. Biasanya sesampai di rumah, Lanang, anakku, segera berlari menyambutku dan minta digendong atau merengek minta oleh-oleh. Tapi rumah sepi. Ayah mertua memang pamit seharian tidak akan pulang sebab berkunjung ke rumah saudara jauhnya di Semarang. Ibu mertua dan Lanang tidak kelihatan. Alhamdulillah aku membawa kunci serep pintu belakang sehingga bisa masuk rumah.

Aku berprasangka baik. Dengan menghibur diri mungkin Lanang dibawa main ke rumah tetangga. Tapi hingga adzan Asar berkumandang tidak juga Lanang muncul. Setelah aku selesai solat Asar aku mencoba mencari Lanang ke tetangga dekat rumah. Semua ibu-ibu tetangga menjawab tidak tahu sambil bermuka masam dan menjawab dengan ketus. Hingga adzan Magrib berkumandang Lanang belum juga datang. Aku semakin gelisah dan mulai menangis. Sampai bapak mertuaku datang, Lanang belum juga muncul. Bapak mertua sangat iba melihatku. Beliau mencoba menelpon ibu mertua, tapi tidak diangkat. Kemudian menanyakan kepada ibu tetangga sebelah kemana gerangan ibu membawa Lanang.

Alhamdulillah ternyata Lanang dibawa ibu ke kota. Ke rumah sahabat ibu yang sedang ada hajatan. Tetapi ada berita yang membuatku kesal dan dongkol. Ibu bilang setiap hari harus mengasuh Lanang karena aku tidak becus mengurus anak kecil. Sepulang sekolah kerjaku hanya tidur saja. Begitu kabar dari ayah. Ya Allah… aku sudah tidak sanggup lagi. Padahal aku selalu bangun saat adzan Subuh berkumandang. Mengerjakan semua pekerjaan dapur hingga siap berangkat kerja setelah memandikan dan menyuapi Lanang. Setiap harinya juga Lanang lebih sering bersama kakeknya daripada neneknya. Sepulang sekolahku aku tidak pernah tidur siang. Ada saja yang harus kukerjakan hingga Lanang siap tidur lagi di malam hari.

Baca juga :  CINTAKU KLEPEK-KLEPEK KARENA DIA

Aku segera menelpon Mas Marno dan mohon agar bisa ikut bersama tinggal di Solo. Kontrak rumah kecilpun tak apa. Asal kami bisa bersama. Karena kubilang aku sudah teramat kangen dan ingin mengabdi kepada suami dengan sepenuh jiwa.

Alhamdulillah. Pekan berikutnya kami sudah mengontrak sebuah rumah kecil di Solo. Aku mulai menata diri lagi bersama Mas Marno. Mencoba mengarungi bahtera kami yang lama tidak kami naiki bersama. Aku belajar mengenal Mas Marno lebih dalam. Kami mendapatkan berkah teramat banyak di tahun kedelapan pernikahan kami. Aku diterima sebagai guru PNS di suatu SMP Negeri di kabupaten Jawa Tengah. Walau penempatannya di Sleman. Cukup dekat dari jarak tempat kerja Mas Marno. Bisnis Mas Marno meningkat sehingga kami bisa membeli sebidang tanah. Dan aku hamil lagi anak kedua kami.

Saat itu sungguh bahagia yang kurasakan Aisyah. Selaksa dunia sudah kami genggam. Tahun berikutnya kami mampu membangun rumah impian kami dan aku melahirkan bayi lelaki lagi yang kami beri nama Bagus. Rumah impian kami selesai dibangun sehingga ibu dan ayahku bisa kuterima saat ingin menjenguk cucunya. Tapi semua hanya bertahan dua tahun.

Aku mulai merasakan sikap suami yang sering uring-uringan. Bisnisnya mulai kacau karena sepertinya Mas Marno kena tipu koleganya. Bayi kecil, Bagus,  jarang sekali  digendong Mas Marno. Alasan capek atau pusing. Aku mulai intropeksi diri. Mungkin ada kesalahan yang kubuat. Atau kami yang sudah mulai menjauh dari Allah. Kucoba kembali melakukan rituinitas yang sudah agak lama kutinggalkan. Solat tahajud dan rutin mengaji. Mas Marno sering kuajak. Tapi dia selalu malas dan ogah-ogahan.

Mungkin karena statusku yang guru PNS membuat Mas Marno kesal dan jengkel. Tapi aku terlalu takut untuk bertanya. Kuakui komunikasi kami kurang baik sejak kami menikah. Saat ada penerimaan CPNS tenaga Farmasi, Mas Marno kusarankan ikut. Semua kebutuhan dan keperluannya kubantu. Prinsipku Mas Marno bahagia dan sikapnya kembali harmonis seperti dahulu.

Alhamdulillah Mas Marno diterima menjadi PNS. Tetapi sangat disayangkan sikapnya tidak berubah, malah jarang pulang ke rumah dengan alasan sibuk dan lembur. Semakin aku penasaran dan bingung dengan sikap Mas Marno. Kucoba menanyakan kepada teman kerjanya di kantor, tetapi semua mengatakan bahwa Mas Marno selalu pulang tepat waktu. Dan luar biasanya wajah teman kantor Mas Marno sangat tidak bersahabat ketika menjawab pertanyaanku. Apa yang berlaku lagi ya Allah?

Lanang dan Bagus sudah mulai bersekolah. Tetapi mereka seperti kekurangan kasih sayang ayah. Tidak pernah sekalipun Mas Marno belajar bersama atau bercengkerama dengan anak-anaknya. Saat aku menuntut sikapnya yang acuh tak acuh. Kami malah bertengkar. Mulai sering kami berselisih pendapat hanya karena masalah sepele. Dalam bulan-bulan berikutnya tabir mulai terkuak. Tiba-tiba teman kantor Mas Marno yang dulu kurang bersahabat datang ke rumah dan meminta maaf. Dia bercerita bahwa selama ini aku difitnah selingkuh sehingga Mas Marno sering curhat selalu menderita di rumahnya sendiri. Ternyata pada suatu hari dia melihat Mas marno bergandengan mesra dengan seorang wanita yang berpenampilan modern dan agak genit. Ya Allah… aku mengelus dada dan berterimakasih kepada teman Mas Marno. Yang kuketahui bernama Mbak Mely. Kami berdua kemudian menjadi akrab karena ternyata rumah kami berdekatan. Dan dari Mbak Mely aku tahu semua sepak terjang Mas Marno.

Gelar wanita shalihah serasa jauh dari diriku. Aku berusaha memperbaiki diri tapi masih tidak cukup di mata Mas Marno dan ibu mertuaku. Saat ayah mertua sakit beliau selalu berpindah rumah dari anak pertama sampai anak ketiga. Aku sangat iba pada beliau. Akhirnya karena Mas Marno anak ketiga, aku bersikukuh merawat beliau. Beliau seperti bahagia jika bersama kami, aku, Lanang, dan Bagus. Setiap pagi dan sore, aku meminta seorang perawat pria untuk membasuh dan merawat bapak mertua. Alhamdulillah hingga akhir hayat beliau selalu bersama kami.

Mas Marno dan aku semakin kurang harmonis. Ayahku di kampung halaman sering sakit-sakitan. Tapi aku tidak bisa terlalu sering berkunjung. Sebab Mas Marno selalu melarangku dengan berbagai alasan. Aku mencoba bertahan sebagai wanita shalihah. Suatu hari ibu menelponku. Dan sangat berharap aku pulang karena ayah sangat parah. Dengan segera aku meluncur pulang sendiri, walau Mas marno agak berat hati.

Ternyata benar ayah sudah sangat parah. Aku ijin selama sepekan agar bisa merawat ayah dengan sepenuh hati. Aku rawat beliau dengan tanganku sendiri. Tak kupedulikan bau pesing dan bau BAB beliau. Semua kulakukan dengan penuh cinta. Tepat di akhir pekan ayah drop dan harus dirawat di Rumah Sakit Dr. Soetomo Surabaya. Saat aku mendorong ayah menuju ambulan untuk berangkat ke Surabaya. Mas Marno menelpon sambil marah-marah.

“Murni! Kamu pulang! Bagus sakit!”

“Ya Allah, sakit apa Mas? Tolong jenengan[1] rawat dulu ya. Ini Ayah harus segera ke RS Dr.Soetomo, Surabaya. Ayah sangat parah sakitnya Mas…”

“Kamu pilih anakmu atau ayahmu!”

Begitu Mas Marno membentakku dengan ketus. Ya Allah. Betapa dingin hatinya. Padahal yang sakit mertuanya. Ayahku. Mengapa dia sangat kejam. Aku menangis berada di puncak kekalutan. Berkali aku istigfar dan berusaha tidak menangis di depan ayahku.

Tapi ayah sepertinya tahu kekalutan hatiku. Aku dipanggil. Dengan suara lemah, ayah menuntunku untuk istigfar dan selalu berdzikir menyebut nama Allah. Aku kacau. Aku merasa saat itu terakhir aku melihat ayah hidup. Aku tak kuasa menangis dan memeluk ayah. Ayah menyuruhku untuk segera pulang dan berkata bahwa beliau ridha terhadap segala tindakanku. Ya Allah, di saat beliau sakit masih menasehatiku dengan penuh cinta. Kuciumi ayah dari ujung rambut sampai ujung kaki. Aku pamit kepada ibu dan adik-adikku sambil menangis. Setengah tergesa aku menaiki bus umum untuk berangkat ke Sleman.

Sepanjang perjalanan aku berkata dalam hati. Jika terjadi sesuatu dengn ayah, pasti semua akan berakhir. Berkali-kali aku istigfar dan menangis. Sesampai di rumah. aku berlari masuk. Kulihat Bagus tidur di lantai depan TV tanpa selimut. Badannya hanya sedikit hangat. Walau beralas karpet tapi hatiku sudah terlanjur sakit. Aku menjerit memanggil Mas Marno. Menanyakan kenapa Bagus tidur di lantai. Kami bertengkar hebat. Hingga Mas Marno hampir menghunusku dengan pedang hiasan yang tergantung di dinding.

Aku lari membawa dua anakku keluar rumah. Saat itu hujan gerimis dan sangat dingin. Aku berlari ke rumah Mbak Mely. Hatiku sudah sangat sakit. Terlebih sejam kemudian adikku menelpon dan mengabarkan ayah sudah tiada. Aku menangis meratapi kepergian ayah. Mbak Mely mengantarku pulang ke rumah. Segera Mas Marno memesan tiket kereta untuk berangkat ke kampung halamanku. Tapi dia hanya sehari. Aku dan anakku juga dibelikan tiket untuk pulang keesokan harinya. Tapi aku dan anak-anak tidak mau pulang bersama mas Marno. Sudah bulat tekadku untuk cerai dan aku minta kami untuk pisah ranjang.

****

“Begitu kisahku, Aisyah.” Murni mengahiri kisahnya tepat saat adzan Asar berkumandang.

“MasyaAllah. Betapa pilu kisah hidupmu Murni,” aku memeluk dan mengusap punggungnya, “aku mendukung semua yang kau lakukan, asal kamu bahagia”

“Terima kasih, kamu memang sahabat sejatiku”

Murni terlihat lebih lega. Wajahnya berbinar bahagia. Dia bercerita sekarang sedang menunggu keputusan hakim dalam sidang cerai terakhirnya. Status dia sebagai guru PNS cukup merepotkan dalam proses cerai. Tapi Murni sudah sangat yakin untuk bercerai. Aku maklum karena kisah hidupnya cukup memilukan. Perpisahan kami akhiri dengan sholat asar berjamaah. Sedikit berfoto bersama. Dan saling membelikan cindera mata. Pertemuan kami berasa sangat kompleks. Ada bahagia, ada duka, dan juga ada harapan untuk masa depan lebih baik.


FOOTNOTE :
[1] Jenengan = kamu (bahasa jawa halus)


Tulisan ini telah lulus review oleh editor dan layak publish.
Copyright © Al Right Reserved 2020
Writing Prodigy Academy

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published.