MENGEMBALIKAN KEPERCAYAAN

Ananda Rachimna Zurrayda
Follow me
Latest posts by Ananda Rachimna Zurrayda (see all)

Setiap orang akan selalu dihadapkan dengan pilihan, begitulah dalam hidup. Dunia remaja yang dikatakan indahpun,  harus dihadapkan dengan beberapa pilihan, seperti:

  1. Menjadi  anak nakal, yang menikmati masa sekolah.
  2. Menjadi anak pintar, dengan juara kelas.
  3. Menjadi anak baik hati, yang pandai bergaul.
  4. Atau  menjadi anak nakal, yang sedang berproses untuk menjadi anak baik.

Aku berada pada pilihan pertama. Namun, sekarang sedang menuju pilihan keempat. Jangan beranggapan bahwa berubah itu adalah hal yang mudah, tinggal restart ulang. Tentu tidak.

Sebelum Covid-19 menyerang bumi tercinta, aku pernah berada pada posisi serba salah. Aku ingat sekali, bagaimana keyakinan kuatku harus disepelekan banyak orang. Kasihan sekali, ya.

“Wah, pucuk dicinta ulam pun tiba,” teriak Mbak Dina dari ujung pintu, seolah menyambut adik kesayangannya dengan seyuman manis. Membuat bulu kudukku merinding. Aku tahu, pasti ada sesuatu di balik senyuman yang ia tampakkan, apalagi di siang bolong begini.

Segera aku duduk, sembari membuka sepatu. “Apaan, sih? Merinding tau, ah.”

“Hanif, adikku yang paling kusayangi, kakakmu yang cantik ini sedang bersedih hati,” ucapnya penuh drama. 

“Nif, anterin ke rumahnya Fina, ya. Aku nggak bisa naik motor panas begini, besok ada final. Bukunya ada di Fina. Mau, ya?”

“Yang final siapa, yang repot siapa. Lagian, punya hp itu untuk apaan, sih? Ya, tinggal suruh Kak Fina fotoin, terus Kakak pelajarin. Susah amat.”

“Eh, anak SMA yang hobi bolos dan males belajar. Buku itu penting. Beda, ya, sensasinya degan lihat foto doang, nggak bakalan masuk, nih, ke otak aku.”

“Derita siapa coba? Bukan aku, kan?” kataku, dan meninggalkannya di teras depan.  Berdebat dengan Mbak Dina  yang sangat cerewet itu, membuat emosi memuncak.

“Dasar adik tidak tahu diri! Aku minta dianterin Mas Andy aja, deh,” teriak Mbak  Dina.

Begitulah di rumah ini, ada kakak yag sangat cerewet dan tidak bisa mandiri. Aku memang anak bungsu, kedua kakakku masih kuliah. Ibu sangat bersyukur karena mempunyai anak-anak yang pintar, sering juara lomba. Tapi semenjak aku memasuki dunia SMA, ibu lebih sering marah-marah karena aku nakal dan tak pernah juara kelas. Namun semakin menjelajahi waktu, ia mulai mengikhlaskan anak bungsunya untuk mencari jati dirinya.

“Mas Hanif, makan dulu,” teriak ibu dari ruang makan. Membuatku berlari kecil menuju meja makan.

“Wah, masakan Ibu manggil aku jauh lebih keras dari suara Ibu,” godaku.

“Dasar alay! Hanif nggak mau anterin aku ke rumahnya Fina. Kan, jauh, Bu. Aku nggak bisa naik motor sendiri,” ucap Mbak Dina.

“Mas, anterin mbaknya, tuh. Masak tega, sih, lihat mbaknya naik motor sendirian. Kan, jauh.”

“Bu, aku capek,” kataku diselingi wajah memelas.

Yo, wes. Suruh Mas Andy aja yang nganterin.”

“Ih, Ibu. Mas Andy baru pulang kampus, kan, capek. Mana tadi katanya ada final.

“Mbak kira aku dari mana? Dari nongkrong? Aku ini dari sekolah juga, capek banget belajar,” kataku sedikit gemas.

“Mana ada yang tau, nyampe sekolah atau gimana, sering bolos. Ya udah deh, aku go-send aja. Dasar adik tidak berguna.”

Begitulah, kepercayaan orang rumah telah hilang karena surat peringatan dari ruang BK mendarat di rumahku. Semua orang jadi tau aku senakal apa. Sebenarnya, Mas Andy juga dulunya nakal. Sering keluyuran malam, sama sepertiku. Tapi bedanya, Mas Andy tetap menjaga prestasinya sehingga masih ada yang bisa dibanggakan. Dulu, aku juga ingin seperti itu. Tapi, setelah kupikir lagi, aku tidak ingin mengikuti jejaknya. Aku ingin membuat jejakku sendiri dan ternyata jejakku salah.

Baca juga :  IM3

“Mas Andy, makan dulu.” Ibu berteriak tepat di sampingku. Suara ibu seakan menggelegar seisi rumah. Mungkin karena belasan tahun, Ibu sering berteriak memanggil kami.

“Ayah kok tumben makan di rumah?” tanyaku, pada ayah yang baru saja memasuki ruang makan. Biasanya ayah akan pulang sehabis salat asar karena perkejaan kantor.

“Iya, tadi habis rapat langsung pulang, rapatnya ternyata nggak lama,” kata ayah.

“Bagaimana, apa kamu sudah perbaiki sifat di sekolah? Masih bolos lagi kamu?” tanya ayah. Semua mata tertuju kepadaku. Aku hanya memasang senyum kepada mereka.

“Maksud senyum kamu apaan?” tanya Mbak Dina ketus.

Ya, dua hari lalu, surat peringatan itu membuat semua orang rumah gempar. Aku tidak habis pikir, siapa yang berani mengantar surat itu ke rumah. Biasanya sebelum sampai rumah, surat itu sudah kumusnahkan lebih dahulu. Tapi, kali ini?

 Setelah surat itu sampai dan dibaca, aku disidang bak buronan yang melakukan tindak pidana. Padahal aku hanya sering bolos, terlambat ke sekolah dan lupa potong rambut. Akhirnya, ayah menghukumku, uang jajan dipotong. Jam tujuh pagi, aku sudah harus berangkat dan tidak boleh keluyuran malam hari. Ingin kuberi perhitungan pada teman kelas yang berani menyampaikan surat itu, benar-benar tak setia kawan.

“Hmm … begini, Ayah. Aku jadi anak baik dikira kesurupan sama guru, terus difitnah sama teman kelasku, dan masuk ruang BK lagi, apa aku harus berhenti coba jadi anak baik?”

“Lha, kok bisa?” tanya Mas Andy yang sudah mulai penasaran.

“Jadi, tadi waktu aku datang pagi, temanku meriksa semua bangku mereka, katanya nanti aku taruh lem ke bangku mereka. Terus mereka cek barang-barang di loker, katanya takut ada yang hilang.”

Mbak Dina tertawa, ayah hanya memegang kepalanya, sedang ibu dan Mas Andy hanya geleng-geleng. Aku seperti sedang menceritakan anekdot drama sekolah.

“Tapi, kamu tidak berbuat macam-macam, kan?” tanya ayah kembali.

“Astagfirullah, Ayah juga berpikir begitu? Nah, kan, terbukti. Ayah aja ragu sama aku.”

“Terus kenapa masuk ruang BK?” tanya ibu.

Aku menggaruk kepalaku walau tak gatal, berusaha mengingat kejadian itu. Ya, di saat waktu salat zuhur. Sekadar informasi saja, sekolahku punya musala yang tidak luas. Jadi, kami harus bergantian antar kelas untuk salat. Hari ini. kelasku dapat jadwal yang ketiga, tapi karena pelajaran Pendidikan Agama Islam, kadang bu guru tidak masalah kalau kami izin salat.

“Jadi, hari ini, tuh, ada ulangan harian kan, Bu. Nah, semalam, aku belajar, tuh, soalnya. Kan, nggak bisa keluar malam. Ya udah, belajar aja, ya, kan. Sebelumnya, pas salat zuhur, aku minta izin untuk pergi salat. Ya, semua orang heran, terus bu guru kira aku kesurupan jin Islam, ditertawainlah aku.”

“Terus setelah itu, ada ulangan di jam terakhir. Aku tau tuh jawaban-jawabannya. Ya, kan, abis belajar semalam. Eh, aku malah dikira nyontek sama guru. Ya, aku nggak ngaku, kan, karena emang  nggak nyontek. Jadi, disuruh  datang ke ruang BK, deh.”

“Makanya, Mas, jangan bandel. Susah, kan, merebut kepercayaan lagi?” oceh ibu.

“Tapi, tenang, Bu. Aku sudah memutuskan menjadi anak baik. Tahan banting, deh.”

“Tahan banting, sih, tapi sering ngeluh,” ejek Mbak Dina. Lalu, disambut gelak tawa dari mereka. Aku juga ikut tertawa. Mengapa sulit sekali menjadi anak baik? Lebih sulit dari pada masuk komunitas pecinta perpustakaan atau mendaftar kartu gratis perpustakaan.


Tulisan ini telah lulus review oleh editor dan layak publish.
Copyright © Al Right Reserved 2020
Writing Prodigy Academy

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published.