PENYESALAN

Pesma Diana
Latest posts by Pesma Diana (see all)

“Bu!! Ibu ada uang?” Tanya Sesil pada ibunya yang tengah menghitung uang hasil penjualan kue-kue tradisional di pasar hari ini. Ibu langsung menoleh ke arah Sesil, sambil sedikit mengernyitkan keningnya. Tidak biasanya gadis semata wayangnya meminta uang malam-malam begini.

“Buat apa?” Ibu balik bertanya.

“Buat beli handphone android. Sekarang belajarnya secara online, pakai internet. Tugas-tugas diberikan guru lewat aplikasi WA dan itu tidak bisa pakai hape ini,” terang Sesil sambil mengangkat hape jadulnya yang cuma bisa untuk menelpon dan SMS.

Ibunya tampak berfikir sejenak, “Berapa?’

Sesil mengacungkan jari telunjuk dan jari tengahnya

Ibunya membuka kembali kantong uangnya, mengambil dua lembar uang kertas berwarna merah lalu menyerahkannya ke Sesil.

“Bukan dua ratus ribu, Bu.”

“Katanya tadi dua,”balas ibunya.

“Iya, dua, tapi bukan dua ratus ribu. Dua juta!”

Ibunya sedikit terperanjat mendengar nominal itu.

“Dua juta? Mahal sekali. Ibu mana punya uang sebanyak itu.”

Wajah Sesil tampak cemberut. “Nanti Ibu jangan salahkan kalau nilaiku jelek karena aku tidak bisa mengikuti pelajaran seperti teman-teman.”

Sesil segera berlalu memasuki kamarnya.

Ibu Sesil nelangsa. Dia hanya terdiam mematung. Dia sangat ingin anaknya bisa belajar seperti teman-temannya. Namun, dia tidak punya uang sebanyak itu.

Dua hari berlalu, tetapi Sesil masih ngambek sama ibunya. Dia tak banyak bicara. Setelah selesai makan malam dan salat isya, dia langsung masuk ke kamarnya dan meninggalkan ibunya seorang diri di ruang tengah.

Biasanya mereka menghabiskan waktu untuk mengobrol sampai larut malam. Menceritakan apa saja  yang mereka alami seharian.

Ibunya sangat sedih, putrinya tidak mengacuhkannya. Dia berfikir keras, mencoba mencari cara agar dapat membelikan hape untuk Sesil. Akhirnya, dia menemukan sebuah ide.

Keesokan harinya, sepulang dari pasar, ibu Sesil membawa sebuah totebag. Dia meletakkannya di meja makan. Saat mereka akan menyantap makan malam, mata Sesil langsung mengarah ke totebag.

“Ini apa, Bu?”

“Bukalah, semoga kamu suka,” jawab ibunya sambil tersenyum. Sesil segera membukanya dan betapa terkejutnya dia ketika mengetahui bahwa isinya adalah sebuah hape android. Matanya berkaca-kaca, dia segera merapat dan memeluk ibunya.

“Terimakasih, Bu.”

Ibunya hanya mengangguk. “Belajar yang rajin, ya.”

“Iya, Bu. Pasti.”

Sebulan telah berlalu. Sesil tampak sangat sibuk dengan handphone-nya. Banyaknya tugas-tugas sekolah membuat Sesil hamper tak punya waktu untuk bercengkrama dengan ibunya, bahkan ibunya sering pulang telatpun dia tak menyadarinya. 

Sampai suatu kali, Sesil baru menyadari bahwa ibunya belum pulang padahal magrib sudah mulai menjelang. Biasanya sebelum asar, ibunya sudah berada di rumah.

Sesil duduk di depan pintu sambil menunggu ibunya. Dari kejauhan, tampak bayangan sosok ibunya berjalan menuju rumah.

Tapi, kenapa ibunya dating dari arah samping rumah? Bukankah seharusnya ibunya dating dari arah depan? Sedangkan di samping hanya ada tanah kosong dan rumah Pak Tejo.

Sesil menggeleng-gelengkan kepalanya. Mencoba mengusir pikiran yang merasuki otaknya. Tidak mungkin ibunya seperti itu. Ibunya memang janda, tapi beliau adalah tipe orang yang menjaga kehormatan.

Seminggu telah berlalu. Kali ini Sesil kembali melihat ibunya dating dari arah samping rumah. Sesil ingin bertanya langsung kepada ibunya. Namun, dia takut ibunya jadi tersinggung dan marah.

Baca juga :  ALUNAN NADA PENANTIAN

Minggu ini adalah kali ketiga Sesil menyaksikan ibunya dating dari arah samping rumah. Dia benar-benar sudah tidak dapat menahan diri lagi untuk tidak bertanya. Dia merasa sangat malu dengan kelakuan ibunya.

Sehabis makan malam dan salat isya, Sesil mulai membuka suara.

“Ibu, Sesil mau nanya sesuatu.”

Ibunya memandang dengan rasa penasaran.

“Mau nanya apa?”

“Kenapa Ibu dating dari arah samping, bukan dari depan rumah?””

Ibunya tampak terkejut. Tak menyangka Sesil akan mengamatinya.

“Kenapa Ibu kaget? Ibu tak menyangka aku akan mengamati apa yang Ibu lakukan?”

Ibunya hanya diam. Dia berusaha mengalihkan pembicaraan ke topik yang lain agar Sesil tidak bertanya perihal itu lagi. Namun, Sesil tetap menuntut penjelasan dari ibunya

“Jawab, Bu! Kenapa Ibu diam saja? Atau, apakah dugaanku benar? Ibu punya hubungan dengan Pak Tejo, yang istrinya kena stoke itu?”

Ibu Sesil menatapnya penuh amarah dan kecewa. Sebuah tamparan mendarat di pipi mulus Sesil.

“Teganya kamu menuduh Ibu berbuat serendah itu!!” Ibu Sesil sudah tak mampu lagi mengendalikan dirinya. Air mata kecewanya tumpah begitu saja. Rasa perih dituduh berbuat tak senonoh oleh anak sematawayangnya, betul-betul mengiris hatinya.

Sesil mendongak ke arah ibunya. Air matanya juga mulai menyeruak ke luar dari sudut netranya. Sambil mengusap pipinya yang panas, dia mencoba untuk meminta penjelasan ibunya.

“Kenapa ibu menamparku? Coba beri aku penjelasan jika memang tuduhanku itu tidak benar.” Sesil membalas tak kalah sengitnya. Dia tahu tak seharusnya dia melawan kepada ibunya. Orang tua satu-satunya yang dimilikinya. Namun, kekecewaannya terhadap ibunya membuat kepercayaan dan hormatnya menguap.

Ibu Sesil mencoba mengatur irama nafasnya. Setelah cukup tenang, dia kembali menatap Sesil.

“Baiklah jika kamu ingin penjelasan. Sebenarnya Ibu tidak ingin kamu tahu. Cukup Ibu yang merasakannya. Makanya Ibu menyembunyikannya darimu.”

Sesil mulai bertanya-tanya dalam hatinya. Apa yang disembunyikan ibunya?

“Sebenarnya waktu kamu minta beli hape sebulan yang lalu, Ibu betul-betul tidak punya uang. Uang yang Ibu sisihkan dari hasil penjualan kue sudah Ibu jadikan untuk membayar kontrakan rumah. Namun, Ibu juga tidak ingin sekolah dan belajarmu terganggu gara-gara Ibu tidak bisa membelikanmu hape. Uang hasil penjualan kue, dikumpulkan beberapa bulan pun tidak akan cukup untuk membeli hapemu. Akhirnya, Ibu memutuskan untuk meminjam uang kepada keluarga Pak Tejo. Dan untuk membayarnya, Ibu menjadi pembantu dirumah mereka selama lima bulan, mengerjakan pekerjaan rumah tangga dan mengurus istri Pak Tejo yang kena stroke.”

“Karena Ibu harus jualan untuk mencari biaya hidup kita, maka Ibu baru bekerja setelah pulang jualan. Kalau akhir pekan, Ibu mulai bekerja setelah jam lima karena Ibu harus lembur untuk membeli paket internet kamu.”

“Ibu sebenarnya tidak ingin kamu mengetahuinya karena kamu pasti malu punya Ibu yang kerjaannya sebagai seorang pembantu.” Bulir bening kembali mengalir di pipi ibu Sesil yang mulai menua.

Sesil terdiam. Ada penyesalan yang teramat dalam menancap di hatinya. Kesalahan terbesar baru saja dilakukannya. Dia segera bersimpuh di pangkuan ibunya.

“Maafkan Sesil, Bu. Maafkan Sesil.”

Tangis penuh penyesalannya pecah membasahi pangkuan wanita paruh baya itu.

Saat ini, hanya satu keinginannya. Dimaafkan oleh ibunya.

Keinginan itu lebih dari apapun yang pernah dia inginkan selama hidupnya, bahkan mengalahkan keinginannya akan hape android sebulan yang lalu.


Tulisan ini telah lulus review oleh editor dan layak publish.
Copyright © Al Right Reserved 2020
Writing Prodigy Academy

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published.