PERNYATAAN MENGEJUTKAN

Noor Yunida Triana
Follow me
Latest posts by Noor Yunida Triana (see all)

Tidak terasa sudah sebulan aku menjalani sebuah hubungan yang tidak jelas. Orang-orang menyebutnya hubungan tanpa status. Hati nurani dan akal saling bertentangan memberikan nasehat padaku. Hatiku berkata hubungan ini baik-baik saja, karena sepertinya didasari dengan rasa cinta. Sepertinya? Ya, aku hanya bisa menebak kalau dia memiliki rasa cinta. Lewat perhatian dan caranya membuatku nyaman, walaupun kita beda level. Bukan level sosioekonomi ya. Tetapi akal terus menyalahkan perbuatanku dengannya. Sungguh, tidak pantas jika aku berhubungan dengan lelaki ini.

Entah mengapa, hari ini aku sangat bersemangat untuk kembali ke kota Purwokerto, setelah tiga hari mengambil cuti untuk pulang kampung. Biasanya berat sekali meninggalkan kampung halaman untuk kembali ke rutinitas kerja. “Mungkin karena hari ini ada ojek gratis”, begitu kata lelaki ini padaku. Apakah ini yang namanya rindu?

Kereta senja telah tiba tepat saat adzan magrib berkumandang. Para penumpang segera berebutan untuk keluar terlebih dulu. Netraku segera mencari sosok lelaki berkulit putih, tampan dengan postur tubuh tidak terlalu tinggi. Tidak berapa lama, sosok itu aku temukan di antara lautan manusia. Kami saling menatap dan tersenyum. Dengan sigap dia mengambil tas punggung yang aku bawa dari tadi.

“Sini bu Vania, saya bawakan.”

“Terima kasih mas Jordan.”

“Pasti lelah ya bu, setelah seharian di kereta?”

“Ah, sudah biasa mas. Lelahnya hilang, kalau mood-nya sedang bagus.”

“Alhamdulillah, pasti karena bertemu saya ya bu?”

“Hmm … Anggap saja begitu,” ucapku sambil tersenyum.

“Silakan bonceng motor saya bu.”

“Hah? Motor ninja?”

“Iya bu. Motor yang matic sedang dipakai adik saya. Tidak keberatan kan bu?”

“Ok, tidak apa-apa.”

Kami pun mengendarai kuda besi ini, meskipun aku tidak terbiasa dibonceng dengan motor seperti ini. Entah apa tujuannya, dia hanya membawa tas punggung yang sangat tipis. Mungkin agar dia tidak merasa berat atau memang tidak berkepentingan untuk membawa tas besar. Tas punggungku sengaja diletakkan di depan, agar tidak memakan tempat di belakang. Kondisi ini membuat lenganku bersinggungan dengan punggungnya. Tas dan jaket yang dia pakai, tidak dapat menghalangiku untuk merasakan kehangatannya, mungkin demikian juga sebaliknya. Rasanya benar-benar menyenangkan. Berhubung waktu shalat magrib sangat pendek, kami mampir di masjid untuk shalat.

“Kita shalat dulu ya bu. Ibu masuk saja, tas ini biar saya yang bawa. Ibu tenang saja, tasnya aman kok.”

“Oke, sahutku sambil berlalu masuk masjid.”

Setelah shalat, kami melanjutkan perjalanan untuk pulang. Wah! Kota Purwokerto ini memang kota kecil, tetapi ramai penduduk dan bermacam kuliner ada di sini. Layaknya pasangan muda, kami menikmati sepanjang perjalanan. Mahasiswa Universitas Soedirman tampak berlalu-lalang di sepanjang jalan yang kami lewati. Ngobrol sambil naik motor dengan suara sedikit berteriak karena jalan sangat ramai.

“Ibu mau makan di mana?”

“Di mana saja boleh.”

“Wah, saya kan tidak tahu selera ibu bagaimana? Kalau selera mahasiswa, ya di warung angkringan atau warung tenda. Masa ibu mau makan di sana?”

“Ehm, ya sudah deh, mampir di warung Ayam Penyet Surabaya ya. Tenang, saya yang traktir kok.”

“Hehe … Ok bu, siap.”

Aku segera memesan dua porsi makanan dan minum sesuai selera masing-masing. MasyaAllah, hidangan di sini memang luar biasa. Aromanya membuat perut lapar dan ingin segera menyantapnya. Tidak butuh waktu lama untuk menghabiskan satu piring nasi lengkap dengan sambal, lalapan, cah kangkung dan minuman segar sebagai penutupnya.

“Terima kasih bu, saya jadi tidak enak ditraktir seperti ini.”

“Nggak apa-apa mas, anggap saja ini balasan nasi kotak tempo hari.”

“Iya bu. Ibu, bolehkah saya bertanya sesuatu?”

“Silahkan,” ucapku sambil terus memakan beberapa cemilan setelah makan.”

“Ehm … ”

“Ehm apa? Katanya mau tanya?”

“Ehm, nggak jadi deh bu, lain kali saja.”

“Lain kali kapan? Ini kan kalimat yang sering kamu tuliskan di whatsapp. Mau tanya sesuatu, tapi tidak jadi terus,” sahutku mulai jengkel.

“Baik bu. Sebenarnya saya ingin menanyakan ini sejak sebulan yang lalu. Tapi rasanya persiapan saya menguap saat melihat ibu.”

Halah! Kayak responsi mata kuliah saja!”

“Iya bu. Tapi ini lebih sulit dari sekedar responsi mata kuliah.”

“Ok, jadi tanya atau terus cerita?”

“Iya … iya … jadi bu. Sebelumnya saya cerita dulu ya bu. Saya masih ingat saat pertama ibu mengajar di kelas kami. Waktu itu ibu dosen baru dan saya semester dua. Awalnya biasa saja, tidak ada perasaan apa-apa, saya menghormati ibu seperti dosen yang lain. Ibu masuk kelas kami semakin intens. Setiap hari saya melihat ibu menyampaikan pelajaran. Tiba-tiba rasa kagum itu datang. Kagum dengan penampilan ibu yang sederhana dan jilbab ibu yang terulur dengan rapatnya. Kagum dengan cara mengajar ibu yang begitu piawai dalam menyampaikan materi perkuliahan. Hari berganti hari, rasa kagum ini, sepertinya berubah menjadi perasaan yang lebih.”

Baca juga :  TUBUHMU BUKAN MILIKMU

Deg! Jantungku mulai tidak beraturan. Akalku langsung merespon, kata-kata apa yang selanjutnya akan dia ucapkan. Pernyataan yang aku harapkan, tetapi juga aku takutkan. Aku berhenti makan dan memperhatikan sosok lelaki ini. Lelaki yang masih duduk di semester empat. Lelaki yang usia terpaut tujuh tahun lebih muda dariku.

“Saya sayang sama ibu? Bagi saya, ibu wanita yang paling cantik di dunia.”

“Uhuk-uhuk … ” Aku langsung terbatuk-batuk demi mendengar pernyataan itu. Kuhentikan segala aktivitas mengunyah dan menegaskan yang kudengar.

“Apa? Saya tidak salah dengar? Jadi benar dugaan saya, perhatian yang mas Jordan berikan selama ini sebagai ungkapan rasa sayang?”

“Iya bu. Saya yakin sebenarnya ibu sudah tahu itu. Dan hari ini saya ingin menegaskan melalui pernyataan langsung,” ucapnya sambil berkeringat dingin.

“Lalu jawaban ibu gimana?”

“Menurutmu bagaimana? Kalau saya merespon setiap perhatian dari Anda?”

“Hmm … ibu memang berbeda saat ngobrol di whatsapp dan bertemu langsung”

“Bedanya gimana?”

“Lebih sinis kalau bertemu langsung. Tapi tetap manis kok, hehe” ucapnya sambil tersenyum.

Wuuih! Anak ini, berani juga merayu dosennya. Tapi nggak apa-apa, hari ini aku bahagia. Kulihat dia semakin serius akan melanjutkan perkataannya. Kalimat yang dengan indah mulai dia rangkai. Kata-kata yang dikeluarkan dengan tenang. Padahal aku tahu, bagaimana dia menata jantungnya saat ini.

“Nah bu, kita sama-sama tahu, dalam agama Islam, pacaran itu dilarang. Apapun bentuknya. Entah itu boncengan bareng, makan bareng, bahkan hanya lewat media sosial, juga dilarang. Sebenarnya saya merasa berdosa telah melakukan semua itu dengan ibu. Tetapi rasa ini tidak tertahan bu. Makanya, saya ingin menjadikan yang haram ini menjadi halal. Caranya bagaimana? Tentu dengan pernikahan. Nah, sampailah pada garis finis cerita saya, yaitu pertanyaan yang ingin saya tanyakan dari dulu.”

Dia menghela napas yang tiba-tiba terasa berat. Menenangkan jantungnya sebentar agar tidak ‘jatuh di lantai’. Tanpa dia sadari, hatiku yang telah jatuh duluan. Tiba-tiba dia menatap dengan lekat dan sungguh, ada ketulusan yang terpancar dari bola matanya.

“Ibu … maukah ibu menikah denganku?”

Deg! Setelah jantungku berdetak lebih cepat, kali ini justru rasanya berhenti berdetak. Sungguh, jantungku rasanya mau meledak! Tanpa sadar, bulir bening meluncur begitu saja.  Ah, ada sebongkah kebahagiaan di sana. Tetapi ada juga perasaan khawatir dan takut kehilangan. Pantaskah aku menerima cinta dari mahasiswaku sendiri? Bagaimana pandangan dunia tentang pernikahan kami? Mungkin masih pantas jika posisiku adalah lelaki dan dia wanitanya. Tapi kenyataan justru sebaliknya.

“Kamu serius?”

“Tentu bu, saya serius. Saya tidak main-main dengan pernikahan bu.”

“Tapi saya ini tujuh tahun lebih tua darimu? Apa usia tidak menjadi masalah bagimu?”

“Saya sudah Shalat Istikharah bu, dan hati saya telah mantap memilih ibu. Usia tidak masalah bagi saya. Rasulullah shallahu’alaihi wasallam menikahi bunda Khadijah radhiyallahu’anha dengan perbedaan usia yang lebih banyak.”

“Konteksnya berbeda mas. Yang kamu bicarakan itu Rasulullah, sementara kita? Hanya manusia biasa.”

“Saya memang hanya manusia biasa bu, tapi saya punya rasa yang luar biasa untuk ibu. Saya berharap ibu yang akan menjadi ibu anak-anak saya. Saya berharap bisa bersama ibu di dunia hingga ke surga. Mungkin saya terlalu berani melamar ibu. Melihat posisi saya hanya sebagai mahasiswa. Mungkin jika itu dosen yang lain, saya akan ditolak mentah-mentah. Tapi saya yakin ibu berbeda.”

Aku hanya duduk tertegun dan diam mematung. Bisa saja aku katakan tidak saat ini juga. Karena merasa hubungan ini tidak pantas. Tetapi tidak dapat kupungkiri, bahwa aku mencintai lelaki ini. Lelaki yang kucari selama 27 tahun ini. Lelaki sederhana yang memenuhi kriteria yang kuinginkan. Jujur, aku juga ingin dia menjadi ayah dari anak-anakku. Aku ingin bisa menghapalkan ayat-ayat cinta-Nya, seperti yang kami lakukan selama sebulan ini. Aku ingin suamiku adalah orang yang menjaga shalatnya, ibadahnya, akhlaknya, seperti dia. Sungguh, hatiku berkata iya, tapi akalku menyuruhku untuk berkata tidak.

“Beri ibu waktu untuk memikirkannya ya. Sama seperti yang kamu katakan, kita tidak bisa bermain-main dengan pernikahan. Karena pernikahan itu, harapannya terjadi sekali seumur hidup.”

“Iya bu. Saya tahu apa yang ibu pikirkan. Banyak hal yang harus dipertimbangkan. Tapi karena perasaan saya tulus, saya berani mengatakan ini, setelah ribuan kali saya pikirkan.”

“Iya.”

“Apapun jawaban ibu, saya sudah siap. Saat ini, saya sudah berusaha menjemput jodoh saya. Saya sebutkan setiap malam nama ibu dalam do’a. Selanjutnya, saya pasrahkan diri sepenuhnya kepada Allah. Takdir yang akan menjawabnya. Jika ibu jodoh saya, pasti kita akan bertemu di pelaminan.”

“Saya terharu. Bagaimana bisa kamu memiliki kepercayaan diri sebesar itu?”

“Karena saya selalu berprasangka baik kepada Allah bu. Mari bu, kita pulang. Sebentar lagi shalat Isya.”

Malam yang sangat meresahkan. Tak sekejapmu mata ini bersedia dipejamkan. Usiaku sudah tidak muda lagi. Sudah bukan saatnya lagi santai menanggapi masalah jodoh. Kubawa keresahan ini dalam doa dan sujud malamku. Ya Rabb, mengapa dia harus terlahir tidak segenerasi denganku? Ya Rabb, berilah aku petunjuk. Apa yang harus kulakukan?


Penulis termasuk kontributor dalam Buku Antologi Prodigy berjudul :
1. SECAWAN RINDU DARI MASA LALUPesan buku KLIK DI SINI
2. KALA SANG PANDEMI COVID-19 MELANDA NEGERI (Ditinjau dari Perspektif Agama, Kesehatan dan Komunitas) – Pesan buku KLIK DI SINI


Tulisan ini telah lulus review oleh editor dan layak publish.
Copyright © Al Right Reserved 2020
Writing Prodigy Academy

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published.