TAJWID CINTA MARIA (Part 3)

Dayang Sumbi
Follow me
Latest posts by Dayang Sumbi (see all)

Motor hitam melaju mendahului angkot, sekilas terlihat Nia melambaikan tangan sedangkan Yusuf membuang pandangan. Diam dengan berpegang erat pada pinggang pemuda yang suka diam jika sedang marah, tetapi kantuk datang karena semalam tak mampu memejamkan mata.

Berulang kali helm ini beradu dengan helmnya, “Tiduro!” ujarnya sambil menarik lengan agar melingkar di perutnya. Entah bagaimana diri dapat terlelap di atas motor yang melaju, berbantal ransel yang serasa empuk. Tanpa terasa sudah berhenti di depan studio musik milik Lucas.

“Hei … hei … bangun!” Alvin mengguncang bahu yang masih merapat di punggung kekar yang tak bergerak meskipun mesin motor telah dimatikan.

“Apa sih, Vin? Biarno!” Suara yang dua hari serasa hilang itu terdengar di telinga, aku merenggangkan pelukan. Sebenarnya sudah bangun saat mesin motor mati tadi, tetapi ingin menunggu pemuda yang membonceng membangunkanku. Nyatanya tidak, dia malah diam tak bergerak seakan menyuruh tidur lebih lama.

Mengetahui aku merenggangkan pelukan, Koko Yohan menoleh.

“Semalam ngapain sampai ngantuk berat?”

Dengan berpegangan bahunya aku turun dari boncengan. Menatap dalam manik hitamnya, sudah tenang tak ada riak emosi lagi di sana. Tangannya terulur melepas kait helm, terlihat lengan putihnya memerah.

“Koko?” Aku mengelus lengan yang mulai ditumbuhi bulu-bulu halus, khawatir dengan ruam merah yang ada. Pasti terkena sinar matahari, karena jaketnya diberikan untukku. Lengannya juga terasa panas, membuatku merutuki diri mengapa tidak sabar menunggu tadi. Kenapa masih saja tidak memahami watak pemuda yang lebih banyak bertindak dari pada berbicara ini.

“Hei, jangan pacaran terus. Latihan, Bro!” Lucas berteriak dari dalam, keki karena kami tak kunjung memasuki studio untuk latihan. Aku lupa jika besok kami akan ikutan lomba di salah satu mall, di kotamadya.

Koko Yohan hanya menurut saat aku menggandengnya masuk dan duduk di ruang tunggu. Menatap tanpa bertanya ketika aku mengeluarkan sesuatu dari tas. Mungkin Body Lotion akan sedikit membantu memudarkan ruam merah karena terbakar sinar matahari, karena ada kandungan tanaman lidah buaya.

“Kenapa, Koko gak bales chat, Maria?” Sambil mengoles lotion mencoba mencari alasan mengapa dia tidak menghubungi aku sejak rabu malam itu, namun hanya hembusan napasnya yang terdengar.

Sebenarnya sudah biasa tanya tanpa jawaban, tetapi akan semakin rumit jika aku tidak menanyakannya. Pasti ada sesuatu yang dia sembunyikan dan nanti akan aku ketahui meskipun tidak bicara. Wajah yang tadi muram pun sudah ceria, membuat semua fokus latihan hingga pukul enam sore.

“Kamu, mau makan apa?” Koko Yohan menyodorkan botol air mineral yang sudah terbuka tutupnya, demikian lah hal sekecil apa pun disiapkan untukku.

“Masih latihan lagi ya? Kan udah bagus.” Koko Yohan hanya menggeleng.

“Ya udah, anter Maria pulang!” imbuhku sambil memasang puppy eyes, membuat pemuda itu berdecih.

“Aku lapar!” Jika sudah begitu berarti titah yang tak bisa dibantah, meskipun ingin mengajaknya makan di rumah tetapi pasti selalu ditolaknya seperti yang sudah-sudah.

Malam minggu, kenapa aku bisa lupa. Pasti pemuda ini ingin mengajak menghabiskan waktu seperti remaja pada umumnya, meskipun hanya nongkrong dan jajan. Sebentar menghubungi mami agar tidak cemas, “Kamu, sama Yohan, kan?” Rupanya Mami sudah hafal kebiasaan ini.

“Tadi dari kost langsung latihan band Mam, besok The Blaze ikut lomba.”

“Udah maem?”

“Maunya makan masakan Mami, tapi ….” Menggantungkan ucapan ketika melihat Koko Yohan sudah naik di kuda besinya.

“Ya sudah nanti makan lagi di rumah, kasihan kan Yohan gak ditemani makan,” kata Mami yang selalu memahami situasi.

“Iya, Mam. Maria, jalan dulu!”

“Ok sayang, hati-hati ya!”

Langsung berlari menuju parkiran sebab Koko sudah memandang tak sabar. Kembali melaju meninggalkan studio sedangkan teman yang lain sudah kabur duluan. Kemana lagi kalau bukan warung bakso Pak Sueb, seakan tiada bosan.

Tidak ada obrolan, hanya suara sendok beradu dengan mangkok. Pak Sueb menatap kami sambil tersenyum, hafal kalau kami sedang tak enak hati. Biasanya warung ini akan penuh teriakan Lucas, Alvin, dan aku yang rebutan apa pun atau sekedar beradu argument. Kini hanya kami berdua saling diam. Empat tahun menjadi pelanggan, pasti mengenal watak pemuda di hadapan.

“Koko, kenapa sih diem terus? Kalau Maria ada salah ya maaf, gak suka diginiin!”

Berdiri termangu di sampingnya, gerbang rumah manjadi saksi kebisuan. Lengannya aku pegang erat, agar tahu gundah hati ini yang didiamkan.

Koko membuka ransel, dan menyodorkan benda kotak yang masih dalam kantung plastik hitam. Aku ragu menerima, menatap kembali mata sipit itu.

Menggeleng pelan, “Apa ini? Maria, gak mau nerima, kalau Koko masih diam!”

“Aku, capek, Mar. Kamis Jumat kemarin ke Singapore untuk tes Universitas.”

Refleks aku menutup mulut dengan telapak tangan karena terkejut, ada rasa takut hinggap di hati. Segumpal daging dalam dada seakan menyusut, membuat sesak seketika.

Koko akan kuliah di Singapore, pasti lama tidak bertemu lalu bagaimana dengan aku? Tidak punya teman dekat selain koko Yohan, bagaimana nanti. Aku .enunduk karena tak tahan dengan bulir air mata yang mulai jatuh, kenapa baru bilang sekarang. Apa Koko Yohan sengaja menjauh karena tahu aku akan bermualaf?

“Hei, kok nangis?” Barang yang disodorkan tadi kembali dipangkunya di atas jok, meraih helmku dan melepaskan kaitannya.

“Yohan, masuk dulu!” Suara mami mengagetkan kami yang masih termangu di depan gerbang, buru-buru menghapus air mata dengan ujung jaket.

“Iya, Ai,” jawab Koko sambil melepas helmnya sendiri dan turun dari motor.

Masih terpaku di tempat ketika pemuda itu menuntun motor memasuki halaman, entah apa yang dipikirkan sebab baru kali ini Koko mau singgah malam-malam. Mami berdiri di teras menatapku heran, tetapi wajahnya terlihat tersenyum saat melihat koko menghampiriku dan menggandeng masuk ke teras.

“Kenapa? Maria, kok cemberut.” Mami mengintrogasi karena melihatku tak juga tersenyum, Koko tertawa seakan tidak ada masalah.

“Maaf, Ai, tadi Yohan terlambat jemput karena sekolah ada acara.” Kenapa malah ke Mami memberi alasannya.

Mami menatapku sambil terus tersenyum, “Kalian, sudah makan?” tanyanya sambil mengacak rambutku seakan gemas dengan wajah yang cemberut ini.

“Belum, Ai, tadi langsung latihan sebab besok ada lomba.” Aku mendelik ke wajah yang memasang mimik tak berdosa. Padahal satu porsi setengah, bakso dihabiskan.

“Ya sudah ayo makan dulu, nanti masuk angin.” Koko Yohan mengikuti Mami sambil menjulurkan lidahnya, membuatku gemas dan mencubit punggungnya.

“Aaaii, sakiiitt,” jeritnya sambil meremas jemariku yang sudah mendarat dan mungkin meninggalkan noda kemerahan di sana.

Mami terkekeh melihat tingkah kami, ruang tamu kosong. Sedangkan Marvel dan Yolanda sedang asik main game di ruang tengah, “Hai, Ko, gak biasa mampir?” sapa Marvel sambil menatapku heran.

Koko menempelkan jari telunjuk di bibirnya, “Ada harimau ngambek!” Sambil terus waspada mengawasi gerakan tanganku yang siap mencubit lagi.

“Hahaha, kapok!” Marvel dan Yolanda barengan menjawab, aku mendelik mereka malah terbahak.

Ada apa dengan sikap Koko, tidak biasanya dia hangat seperti ini dengan keluargaku. Bahkan malam ini dengan lahap menyantap makanan yang dihidangkan Mami, seakan bakso tadi raib dari ususnya.

“Malam, Suk!” Koko menyapa Papi yang barusan pulang dari undangan tetangga, berdiri dan menyalami.

“Yohan, lama tidak bertemu tambah besar dan gagah kamu.” Papi menepuk bahu sambil menatapku, pasti heran melihat Koko di meja makan.

“Makan tiap hari, Suk, jadi ya begini hehehe.”

“Udah mau lulus, kuliah di mana, Yo?” Papi malah ikutan nimbrung di meja makan sedangkan Mami membuka kotak makanan yang dibawa Papi dari tetangga.

“Sama Papi sih kemarin tes di SG, tetapi Yohan pingin yang lain saja.”

“Ooww, ya bicara sama orang tua lah kalau ada niatan lain.” Jadi rupanya Koko tak bercerita karena masih ada keinginan lain, tetapi apa?

Pukul setengah sembilan ketika kami duduk di teras, kembali saling diam.

“Mar.” Koko kembali menyodorkan barang yang tadi batal diberikan, membuatku merengut.

“Apa sih?” lirihku ambil mengamati isi kantung, tetapi ditahan saat ingin membukanya.

“Bukanya nanti saja, atau besok. Sekarang aku pulang ya, nguantuk poolll.” Koko berdiri dan melongok ke dalam, mungkin ingin berpamitan Mami Papi.

“Koko, marah karena Maria mau jadi mualaf?” tanyaku sambil memegang pinggangnya, sehingga membuat Koko terkekeh karena geli.

Baca juga :  PESAN IBU BERTULISKAN ARANG

“Enggak!”

“Tapi kok diem terus sama, Maria?”

“Aku pulang dulu, besok siap jam delapan!” Koko membalikkan badan, lagi-lagi aku menarik ujung kausnya.

“Mar, aku capek! Besok masih panjang lo.”

“Jawab dulu!”

“Ya buka bungkusan itu, entik lak ngerti seh!”

“Haaah!” seruku sambil menghentakkan kaki, karena selalu mencari jawaban sendir. Koko malah meringis.

“Pamitkan sama Papi Mami ya!”

“Males!”

“Cemberut cepat tua! Mix susu trus bobok ya, besok biar syantiiekk.” Koko mengerling manja, membuat aku menjulurkan lidah.

“Eh jaketnya!” Aku menyodorkan jaket yang sedari tadi tergeletak di kursi.

“Pakai en!” katanya sambil naik sadel motor.

“Nanti belang lengannya.” Aku merengek agar Koko memakai kembali jaketnya, kalau maminya tahu lengan belang karena aku bisa dimaki habis nanti.

Koko memasang helm, “Ndak panas.”

“Dingin, Ko, malem. Duuh.” Aku menyampirkan jaket ke bahunya, tetapi dilepas lagi dan ditutup kan  ke kepalaku. Andai tak malu dilihat tetangga, pasti sudah aku paksa memakaikannya.

“Udah pakai en biar nanti ngimpi aku hahaha!?” Jawabannya membuatku terdiam, lalu membuka pintu gerbang untuknya.

“Koko hati-hati! Awas kalau nanti gak chat atau telpon, Maria gak tidur!?” Ancam ku sebelum suara tertelan seruan knalpotnya.

Apa sih isi bungkusan dari koko, tak sabar mengetahui membuat kaki ini berlari ke kamar. Terbelalak melihat isi setelah menyobek kertas kado, sebuah buku tebal dengan judul Fikih wanita dan mencari nama Allah ke-100. Katanya suruh tidur cepat namun memberikan buku yang membuat mata ini penasaran, apa ini tandanya koko setuju aku memeluk Islam?

[Sudah bacanya besok-besok, sebab butuh ketenangan dan kenyamanan. Met bobok Maria]

Chat dari koko membuatku tersenyum, kami hanya selisih satu tahun namun sikapnya begitu dewasa dan melindungi. Mampu meredam sifat kekanakan dan menang sendiri yang aku punya, lantas jika koko jauh siapa teman diri ini. Perasaan nyaman saat di dekatnya kian hari kian terasa, gelisah jika tak mendengar suaranya. Mungkinkah ini cinta monyet itu?

“Kenapa Koko ngasih aku buku itu?”

Tangannya mengacak rambutku, “Katanya mau belajar Islam? Bukankah butuh ilmu, dan kata temanku fikih itu sudah mencakup semua. Pelan-pelan bacanya dan pahami, karena kamu harus mengenal Tuhanmu lebih dulu sebelum mencintai.”

“Koko kok pinter?” Menggodanya dengan mengerjapkan mata, membuatnya tergelak.

“Tapi Koko gak suka jika kamu masuk Islam hanya karena laki-laki!?” Mata hitam itu menatap tajam dan seakan penuh harap.

“Dari kemarin kok yang diucap pemuda, laki-laki seh. Apa Koko cemburu!?”

“Ndak!” jawabnya cepat sambil mengalihkan pandangan, aku tahu koko berbohong.

“Maria dan Yusuf gak berteman baik Ko!?”

Koko berjalan kearah Lucas dan teman-teman yang asik ngobrol sambil menunggu pengumuman pemenang lomba, aku mengejarnya sambil terus memanggil.

“Bojomu opo’o sih Yo? dari kemarin kok rewel ae!?” Lucas melempar permen kearah ku, “Cup manis, kalau Yohan sudah bosan sini sama Koko Lucas!” Mendengar itu refleks koko Yohan menoyor kepala Lucas.

Ya ada yang berubah dari sikap koko, lebih banyak diam lagi meskipun sedang bersama teman-teman. Kebahagiaan sebagai juara dua tak dapat menutupi wajahnya yang murung, ada apa?

“Maria balik kost besok pagi aja Ko, nanti biar diantar pak Lukman.” Kami duduk di warung bakso pak Sueb, menikmati jus alpukat kesukaannya. Tidak ada jawaban, mata itu terus menatap arah masjid di seberang jalan.

Tidak biasanya koko Yohan langsung memasukkan motor ke halaman yang gerbangnya terbuka, terlihat mobil papi di garasi berarti ada di rumah.

Mami yang sedang menyiram bunga langsung menghentikan aktivitasnya, menyambut kedatangan kami.

“Hai tampan dan cantik, selamat ya!” Mami mengulur kan tangan ke arah koko, dan disambut hangat senyumnya.

“Xie-xie Ai.”

“Aku gak!?” Memasang wajah cemberut sebab  merasa dicuekin, membuat mami menggeleng kepala lau memelukku sambil mengecup puncak kepala.

“Selamat ya Ko!” Marvel dan Yolanda muncul dari dalam disusul papi.

“Ya ya ya? Koko pulang o!” teriakku gemas karena semua memberikan selamat untuknya sedangkan aku di cuekin lagi. Marvel dan Yolanda terbahak melihat sikap yang kekanakan ini kambuh, sedangkan koko malah diseret mereka masuk.

“Ehhh gak boleh gitu, Mami udah masak. Mana yang lain kok gak ikut kesini?” Papi memeluk dan menanyakan keberadaan The Blaze yang lain.

“Mereka kecapekan Pi, besok Maria baru balik kost ya!? Suruh pak Lukman nganter, kasihan Ko Yohan kan harus sekolah?” Kami masuk ke ruang makan sambil terus berpelukan, itulah papi meskipun anak-anak sudah remaja tetap di peluk di sayang. Meskipun hanya aku dan koko yang makan namun mami papi menemani sambil sesekali menanyakan kegiatan kami selanjutnya dan juga tentang sekolah.

Heran dengan pemuda yang semakin kerasan di rumahku, biasanya hanya sampai di teras saja namun kini memilih ngobrol dengan papi di kebun belakang. Hari sudah gelap ketika aku bangun tidur, bahkan lupa kalau meninggalkan koko begitu saja bersama papi di belakang. Apa saja yang mereka bicarakan?

“Mbak Mi, jam berapa Ko Yohan pulang?” tanyaku ke pembantu yang suka masakan asin itu, namun gelengan kepala sambil menunjuk kamar tamu.

“Masih tidur.”

Mataku melotot seketika mendengar jawaban mbak Mi, koko masih di sini dan sedang tidur?

“Tadi bapak yang nyuruh, sebab Koko menguap terus. Takut ngantuk di jalan jadi suruh istirahat dulu sama Bapak.”

“Trus Mami Papi kemana?”

“Mushola.”

Bahkan saat makan malam pun koko masih berada di sini, ngobrol dengan papi mami. Penasaran tapi malu, jadi diam saja menjadi pendengar.

“Yohan banyak tanya tentang Islam, kok merasa ada sesuatu gitu ya Mi?!” ujar papi setelah koko pamit pulang.

Mami tersenyum sambil melirik ku, “Mungkin Yohan dapat hidayah Pi, semoga saja!”

Gleeekk.

Hidayah? Koko Yohan jalan sama Hidayah kok mami malah senang, apa gak merestui kedekatan kami selama ini jadi diam-diam mereka menjauhkan ku dengan koko dan mensuport Hidayah agar dekat koko?

Kapan Hidayah jalan sama koko, kok gak ada gosip apapun di group alumni. Muka rasanya terbakar, tulang-tulang melemas bahkan dada seakan sesak. Jadi ini alasan koko diam karena ada hubungan dengan Hidayah si jilbab panjang namun centil itu. Tapi katanya dia kan sekolah di pondok, ya macam sekolah Alkitab kalau di Nasrani. Masak iya mau pacaran sama koko yang Katholik, yang benar saja.

Sampai malam mata ini susah terpejam, buku dari koko hanya tergeletak di bantal. Entah pukul berapa tertidur, bangun saat Yolanda berteriak sambil mengguncang bahu.

“Kak, bangun! Itu sudah dijemput Koko.”

Tubuh langsung terduduk, mencerna ucapan Yolanda. Kan koko sudah aku bilangin kalau yang anter pak Lukman, ngapain jemput?

“Maria, Yohan jemput apa gak sekolah?” Mami ikutan panik, meskipun masih pukul lima tiga puluh tapi kalau harus pulang pergi kan capek.

“Pi, suruhen Yohan ikut Pak Lukman saja! Kasihan kalau capek PP trus sekolah, dilarang pergi pasti nekad juga dia nanti.” Mami menemukan solusi, mungkin begitu lebih baik. Nanti motor koko dibawa Marvel yang satu sekolah dengannya, gak bisa menolak sebab papi mami yang nyuruh.

Di dalam mobil saling diam, membuat mengantuk dan tertidur dengan paha koko sebagai bantal. Sampai di kost tidak ada pembicaraan serius padahal aku ingin bertanya soal Hidayah, karena bukan watak jika harus memendam penasaran. Sambil menunggu waktu berangkat magang aku kirim chat ke koko saja, dari pada gak konsentrasi.

[Koko kenapa gak cerita kalau dekat sama Hidayah]

Hanya dibalas emot berpikir.

[Sejak kapan?]

[Hidayah siapa?]

[Itu anak di kelasku dulu.]

[Mana kenal]

Iya koko mana kenal sama Hidayah ya? Terus siapa yang dimaksud mami kemarin.

[Koko tanya-tanya soal Islam ke Papi buat apa?]

[Memastikan aja kalau kamu gak akan kesulitan belajar, sebab kalau ada masalah kan aku gak bisa bantu]

[Kok Mami bilang mungkin Koko dapat Hidayah, siapa?]

[Hahaha]

[Koko] Dengan emot sedih.

[Tanya si Yusuf apa itu hidayah!]

[Nah katanya gak suka Maria dekat dia, kok suruh tanya]

[Agar kamu dapat jawaban yang tepat]

[Jadi boleh dekat sama Yusuf]

[Gak!!!]

[Lo!?]

[Chat kan bisa tanpa harus ketemu]

[Gak punya nomer dia, Kokooo]

[Baguslah]

[Kok!?]

[Tanya Ajeng aja, kayak e dia bisa]

Duh, pasti nanti ditertawakan lagi oleh mereka seperti Yasin kemarin. Namun lebih baik lah dari pada dekat-dekat Yusuf nanti malah melebar perkara.

Kata Ajeng hidayah itu bimbingan atau petunjuk yang telah diberikan oleh Allah kepada hamba yang dipilih untuk menuju jalan kebenaran. Baru paham yang dimaksud mami, mungkin mengira koko yang berniat masuk Islam makanya banyak tanya. Sikap koko membuatku kian mantap untuk bermualaf, nanti sore aku akan ikut belajar bahasa Arab di mushola agar bisa baca Al-Qur’an. Katanya gratis, meskipun aku suruh bayar juga gak apa-apa.

Okay Maria, keep the spirit to learn!

Bersambung 


Tulisan ini telah lulus review oleh editor dan layak publish.
Copyright © Al Right Reserved 2020
Writing Prodigy Academy

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published.