JADI EDITOR, NGAPAIN AJA TUH?

Sea Woelandary
Follow me
Latest posts by Sea Woelandary (see all)

Sebelum

Hari ini aku benar-benar lelah. Tubuh ringkih inipun ku rasa semakin menyusut di telan kepenatan. Bagaimana tidak? Seharian ini aku harus berhadapan dengan 7 orang klien. Kasus mereka begitu beragam hingga membuat kepala ku sedikit pening. Oh, Tuhan. Aku hanya ingin membantu mengatasi permasalahan mereka tapi mengapa diriku sekarang jadi ikutan baper?

“Aduh, Linda. Nggak usah ikutan baper kayak gitu deh. Nyantai aja. Entar bisa-bisa kamu yang butuh dikonsulin. Hahaha ….”

Terdengar bisikan di telingaku. Siapa ya? Itu setan apa malaikat? Ah, entahlah. Ku lihat jam dinding di ruang tamu. Pukul 4 sore. Ingin rasanya merebahkan diri namun rentetan jadwalku yang lain siap menunggu di eksekusi.

Sesudah

Hari ini, aku benar-benar lelah. Tubuh ringkih ini pun kurasa semakin menyusut ditelan kepenatan. Bagaimana tidak? Seharian ini, aku harus berhadapan dengan tujuh orang klien. Kasus mereka begitu beragam hingga membuat kepalaku sedikit pening. Oh, Tuhan. Aku hanya ingin membantu mengatasi permasalahan mereka, tetapi mengapa diriku sekarang jadi ikutan baper?

“Aduh, Linda. Nggak usah ikutan baper kayak gitu, deh. Nyantai aja.  Entar bisa-bisa kamu yang butuh dikonsulin. Hahaha ….”

Terdengar bisikan di telingaku. Siapa, ya? Itu setan apa malaikat? Ah, entahlah. Kulihat jam dinding di ruang tamu. Pukul 4 sore. Ingin rasanya merebahkan diri. Namun, rentetan jadwalku yang lain siap menunggu dieksekusi.


Bismillaah … assalaamu’alaykum.

Halo, Sahabat Prodigy.

Setelah membandingkan kedua tulisan tersebut, apakah Sahabat Prodigy merasa ada perbedaan antara sebelum dan sesudah? Kira-kira, apa bedanya hayo?

Jadi, Guys, kedua tulisan tersebut sebagai upaya perbandingan antara yang belum dan yang sudah disunting oleh editor. Tentu saja, terlihat jelas perbedaannya, baik dari EBI maupun KBBI-nya.

Ngomongin tentang editor, nih, Sahabat Prodigy pastinya sudah tahu, kan, ya, siapa itueditor? Sepertinya, Sahabat Prodigy sudah begitu familiar dengan istilah editor. Itu, sih, tebakan saya. Semoga saja benar.

Editor(dalam bahasa Indonesia dikenal sebagai penyunting) memiliki beragam makna, tergantung domain pemakaiannya.

Dalam dunia pers, editor adalah orang yang bertugas untuk merencanakan dan mengarahkan penerbitan. Padanan katanya adalah redaktur. Dalam bidang ini, editor ada beberapa macam, antara lain pemimpin redaksi (editor-in-chief), redaktur pelaksana (managing editor), dan redaktur (editor). Sementara itu, editorial adalah opini redaksi tentang suatu masalah.

Dalam dunia perfilman, editoradalah orang yang menyusun dan merakit film/pita rekaman dengan cara memotong-motong dan memasangnya kembali.

Lain lagi dalam dunia penerbitan buku, editor adalah orang yang bertugas untuk mencari dan menyeleksi naskah lalu menyunting isi, bahasa, ilustrasi, dan layout-nya serta mengecek proof (naskah siap cetak).

Gimana, sudah mulai memiliki gambaran siapa sebenarnya editor itu?

Tiga Jenis Editor dalam Penerbitan

Nah, kali ini saya akan mengkhususkan pembahasan tentang editor dalam penerbitan. Umumnya, ada tiga jenis editor yang jasanya digunakan oleh penerbit.

1. Developmental editor

Bertugas melihat gambaran besar dan memberikan evaluasi menyeluruh dari pekerjaan penulis untuk membantu menentukan apa yang dibutuhkan agar tulisannya siap untuk diterbitkan.

2. Proofreader

Bertugas menemukan kesalahan pengetikan dan memperbaiki kesalahan tata bahasa tepat sebelum proses penerbitan buku.

3. Editor baris

Bertugas mengidentifikasi kalimat atau kata yang digunakan penulis dalam tulisannya, memastikan nada tulisan konsisten, serta menyempurnakan pilihan kata dan sintaksis sebuah naskah.

Lalu, tugas editor tuh ngapain aja, sih?

Menurut Gillian Green, pekerjaan editor itu ibarat seorang bidan bagi para penulis. Dia bertugas membantu para penulis “melahirkan” karyanya, memberikan nasihat, saran, dan dukungan kepada penulis dalam proses penulisan karyanya. Dengan demikian, penulis dapat menghasilkan karya terbaiknya.

Baca juga :  APA PERBEDAAN PENERBIT MAYOR DAN MINOR (INDIE)?

Tujuh Pekerjaan Pokok Editor

Yuk, kita simak tujuh pekerjaan editor berikut:

1. Menyeleksi Naskah Masuk

Di penerbitan buku, tentunya setiap hari ada naskah-naskah baru yang dikirim oleh penulis. Tugas editor adalah menyeleksi naskah tersebut apakah layak diterbitkan atau tidak. Tugas menyeleksi ini lumayan memakan waktu, loh. Biasanya, proses seleksi ini memiliki tahapan-tahapan hingga akhirnya naskah tersebut dinilai layak diterbitkan.

2. Membuat Konsep Naskah

Selain menyeleksi naskah, editor juga bertugas untuk membuat konsep buku. Misalnya, ingin menerbitkan buku jenis apa, buku hendak dibuat seperti apa (ukuran, bentuk, halaman), ditujukan kepada siapa, bagaimana strategi promosinya, dan berbagai macam persiapan lain. Biasanya, editor juga bekerja sama dengan tim redaksi serta penulis untuk mematangkan konsep buku yang akan digarap.

3. Menghubungi Penulis

Editor tidak hanya bergumul dengan naskah dan buku-buku, tetapi juga dengan pemilik naskah alias si penulis. Biasanya, editorlah yang menghubungi penulis terkait informasi naskah diterima/ditolak, urusan akad/perjanjian naskah, pemberitahuan buku terbit, dan lain-lain. Editor juga mengingatkan penulis yang memiliki tenggat waktu menulis, meminta perbaikan, dan lain-lain.

4. Menyunting Naskah

Nah, mungkin ini inti pekerjaan dari seorang editor, yaitu menyunting naskah. Intinya, sih, mempersiapkan naskah sehingga enak dibaca dan mudah dipahami oleh pembaca. Biasanya, proses menyunting terdiri dari beberapa aktivitas, meliputi mengecek salah ketik, penggunaan EBI dan tata bahasa yang benar, kesesuaian gaya bahasa dengan sasaran pembaca, serta mengecek kebenaran isi naskah.

Selama proses menyunting, bukan hanya butuh kesabaran dan ketelitian, tetapi juga ketidakbosanan. Tidak menutup kemungkinan, editor harus membaca berulang-ulang naskah yang sedang disuntingnya. Jadi, kalau Sahabat Prodigy termasuk makhluk yang cepat bosan, mending mundur alon-alon, deh, dari pekerjaan ini. Hehehe.

5. Mengecek Naskah Setelah Di-layout

Setelah selesai diedit, naskah akan masuk ke proses selanjutnya, yaitu layouting atau pengaturan tata letak. Namun, bagian ini bukan tugas editor, tetapi menjadi kewajiban layouter. Setelah naskah ditata letak (termasuk ditambah ilustrasi dll., tergantung bukunya), editor memeriksa lagi naskah tersebut. Jangan sampai masih ada yang salah atau kurang. Jika naskah diperiksa dengan saksama dan dianggap sudah layak maka naskah tersebut akan masuk proses selanjutnya, yaitu siap cetak.

6. Menulis Back Cover/Blurb dan Pengantar Penerbit

Menulis back cover/blurb adalah tugas editor yang bisa dibilang gampang-gampang susah. Dianggap gampang karena editor sudah tahu isi naskah dan kelebihan naskah yang akan ditonjolkan. Namun, menjadi tantangan tersendiri untuk mengemas isi dan kelebihan tersebut dan menampilkannya di bagian belakang buku. Editor harus membuat back cover yang membuat pembaca tertarik dan ingin membeli buku yang sedang dipegangnya. Terkadang, penulis juga bisa membuat blurb buku mereka, tergantung kesepakatan dengan editor, senyamannya saja.

Selain itu, adakalanya editor juga menulis pengantar penerbit (tidak harus ada di setiap buku). Biasanya, pengantar penerbit berisi latar belakang/alasan diterbitkannya buku tersebut berikut kelebihan buku sehingga benar-benar layak dibaca.

7. Melihat Selera Pasar

Editor juga harus jeli dalam melihat selera pasar, terutama di bidang/bagian yang dia geluti. Misalnya, sebagai editor buku religi, saya harus tahu buku-buku religi seperti apa, sih, yang dicari dan dibutuhkan pembaca, buku-buku yang sedang trend saat ini, atau mungkin buku-buku yang akan trend ke depannya.

Hal ini bermanfaat agar editor tidak asal dalam memilih dan mengolah naskah. Tentu saja, baik penulis, editor maupun penerbit, ingin buku yang mereka buat disukai pembaca, kan? Jadi, tidak bisa asal dalam mengolah dan menerbitkan buku.

Tiga Keahlian Khusus Editor

Nah, untuk melakukan ketujuh tugas tersebut maka editor harus memiliki tiga keahlian khusus, di antaranya:

1. Keterampilan Memperhatikan Detail

Pekerjaan editor melibatkan pengecekan fakta dan konsistensi tulisan. Perhatian yang kuat terhadap detail dapat membantu editor dengan cepat menangkap ketidakkonsistenan atau informasi yang salah.

Pengeditan adalah pekerjaan yang berat, Guys, terutama ketika mereka dituntut untuk menghabiskan waktu berjam-jam menatap teks yang sama. Namun, para editor harus menjaga mata mereka tetap tajam dan memperhatikan naskah untuk membuatnya menjadi sebuah tulisan yang layak terbit.

2. Keterampilan Komunikasi yang Kuat

Para editor buku hebat tahu apa yang membuat sebuah tulisan bagus. Mereka pun tahu bagaimana mengomunikasikan informasi itu secara jujur dan efektif kepada penulis.

Editor yang memberikan feedback dengan cara yang baik tanpa merendahkan kemampuan penulis cenderung dapat mempertahankan hubungan kerja yang baik dengan kliennya. Hal ini mampu meningkatkan peluang layanannya akan diperlukan lagi, terutama jika buku yang diedit menjadi bestseller.

3. Keterampilan Menulis yang Baik

Seorang editor tahu apa yang membuat tulisan menjadi baik karena dia sendiri memiliki kemampuan menulis yang baik. Dia juga memiliki pemahaman yang kuat tentang bahasa, cara menyusun teks, dan cara yang tepat untuk memformat kalimat dan tata bahasa.

Gimana, Guys?

Apakah Sahabat Prodigy sudah merasa mendapat penjelasan gamblang tentang dunia editing dalam proses penerbitan buku?

Sahabat Prodigy yang merasa memiliki kemampuan menjadi editor dan ingin mengasahnya, boleh, kok, nyoba-nyoba mengambil peluang ketika ada penerbit yang membutuhkan jasa itu.

Good luck, ya.

Wassalaamu’alaykum.


Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published.