GADIS DUHA

Efza Salsabila
Latest posts by Efza Salsabila (see all)

Aku tak ingin terlibat jauh dengan pesona hatimu yang tampak lembut. Semakin berjarak, rasa semakin mengikat, berat ‘tuk melepas. Meski saat ini hanya bayang yang terselip, tetapi ada keyakinan kuat bisa merengkuh bukan hanya jiwa melainkan pula ragamu. Laraku menahun menganga seakan terobati lantunan kalimat-kalimat-Nya yang begitu syahdu. Suara merdu itu mengalun berbisik pada dinding telinga di sudut masjid pertamaku setelah sekian waktu alpa. Sujud ini kujadikan hazmat akan hasrat yang sering berbelok arah tak semestinya.

Denting jam meniti masa menuju bulan. Netraku tetap saja tak bergeser dari gadis anggun bermata biru itu. Sengaja kumenyusuri langkahnya meski alas kaki hanya alasan agar bisa bersapa. Cukup terangkat sekali, degup jantung tak beraturan. Raga yang selalu terulur kain penutup lekuk-lekuk indah anugerah Ilahi itu, tak pernah memendekkan pun memanjangkan menit ketika memasuki serambi masjid, lengkap dengan jumlah rakaat yang sempurna.

Kesempurnaannya sangat bertolak belakang denganku. Oh, tidak! Nyaliku terhalang kesuciannya.

“Do, pulanglah, Nak. Pilihan Ayah kali ini tak akan salah, percayalah. Hitungan bulan, usiamu memasuki kepala tiga. Sudah saatnya kauakhiri masa lajang.”

Zikir terhenti bersamaan notifikasi chat Ibu.

“Ya, Rabb, mengapa disaat rasa kembali menemukan pilihan, Ayah pun kembali memberikan pilihan?”

Pertimbangan yang terlalu mengulur waktu. Pilihan antara singgah atau segera beranjak. Mengenalnya adalah tantangan yang itu belum kulakukan. Namun, ada aura yang mengisyaratkanku pulang ke peraduan. Janji itu. Ya, setelah semua berakhir dengan permintaan maafku meski ada syarat keterasingan untuk menutup masa lalu, Ayah tak pernah menyerah dengan perjodohan, pun aku tak pernah alpa menolaknya. Andai kali ini aku yang mengajukan? Langkahku gontai lantaran raga tersandera perasaan yang masih ingin mengintip kepribadiannya.

“Senja, aku datang….”

“Om Edo!!” Teriak sulung Kak Ayu menghampiriku setiba di depan garasi. Senyumnya mengembang karena Om baiknya datang. Ibu, Ayah juga Kak Ayu pun seketika keluar dengan sambutan hangat mereka yang selalu hadir.

“Assalamu’alaikum,” sapaku mendaratkan kening ke punggung tangan Ibu yang mulai keriput.

“Kurusan kamu, Nak,” peluk Ibu erat, disusul tepukan Ayah ke bahu juga cipika-cipiki Kak Ayu.

“Tapi gantengnya nggak hilang kan, Bu.”

“Haha .…” Kami tertawa melepas rindu.

Usiaku yang tak lagi remaja, masih saja dianggap manja. Sejenak kududuk menyeruput seduhan lemon tea hangat. Aroma khas soto Lamongan menguar ingin segera kusantap. Lantaran ini, Ayah jatuh hati pada gadis Lamongan. Sampai akhirnya menjadi menu favorit keluarga.

“Edo, stop! Murottal masjid sudah menggema.” Nuraniku menghentikan.

Ya, kini aku sudah berubah. Meski tak kasat mata, gadis itu ikut andil dalam perubahanku. Seolah ada bisikan yang menggegaskanku mandi dan persiapan salat Magrib.

Laju motor yang menyapu jalan penuh tikung tak semendebarkan bayangan gadis yang tersingkap hijabnya saat tertitup angin kala itu. Aku, jatuh hati padamu, gadis Duha.

“Astagfirullah. Insyaf, Edo. Ingat nasIhat Abah Muslim!”

Lembaran quran menghiburku selepas Magrib di masjid yang berjarak beberapa meter dari rumah, mengingatkan syahdu lantunannya. Kuniatkan pulang setelah salat Isya, lantaran masih menikmati kalam-Nya.

Rindu kebersamaan terobati saat makan malam. Meski aku tipe pribadi tak banyak cakap, tapi suasana tetap ramai karena Kak Ayu pandai mencairkan suasana, sifat yang sangat bertolak belakang denganku.

Larutnya malam akhirnya menghantarkan kami beranjak ke kamar masing-masing. Ruang ukuran lima kali tiga meter kembali mengingatkan wajah yang tak ingin kukenang. Meski warna cat dinding ini inspirasinya, tapi sudah jauh terkubur bersama luka. Dia meninggalkanku tiga tahun lalu tanpa sebab yang jelas. Kini, hatiku telah tertambat pada gadis Duha itu.

“Edo, boleh Ibu masuk?” Ketukan pelan Ibu menghentikan lamunanku. Seketika tangan meraih gagang pintu.

“Tidak dikunci, kok, Bu.” Lanjut kududuk bersila memangku bantal dan kami berhadapan.

“Do, chat Ibu lusa itu masih ingat, kan?” Sambil mengusap-usap punggung tanganku.

“Tentu, Bu. Makanya Edo pulang,” jawabku dengan nada datar.

“Alhamdulillah ….” Ibu tampak lega.

“Tapi, Bu, ada alasan lain Edo pulang.”

“Oh ya, sepertinya serius.” Senyumnya tulus mengharap penjelasan.

“Tidak sekarang, ya. Ibu terlihat lelah, istirahat saja dulu.”

“Tidak, Nak, kamu bikin penasaran, sih!” Punggung tanganku ditepuk-tepuknya.

“Hmm…begini, Bu. Selama bersama Abah Muslim, Edo banyak belajar tentang kehidupan dan kekhilafan. Ya, Edo dulu salah, sudah bikin Ayah Ibu sport jantung. Tapi tanpa kejadian itu, Edo nggak akan seperti sekarang ini. Dan Edo .…”

“Justru itu. Ibu bahagia sekali dengan kondisimu sekarang. Ibu pastikan kali ini terakhir perjodohanmu.” Tiba-tiba Ibu memotong pembicaraanku.

Baca juga :  PENYESALAN

Antara bimbang dan yakin, terselip perasaan seperti ada sesuatu yang akan terjadi. Namun, bagaimana dengan gadis Duha itu? Gadis yang selalu terjaga dengan hijab. Ah, nafsu ataukah hati yang mendorongku mengaguminya?

Lantaran akal tak mampu mencerna, terkadang menolak ketetapan takdir yang telah jelas tertulis di Lauh Mahfuz. Dan aku, apakah termasuk di dalamnya? Namun, aku bukan Sufi yang mampu menembus makna tersiratnya.

Di malam sujudku ada bisikan, kembali aku harus memenuhi permohonan Ayah, Ibu. Keyakinan Ibu bahwa ini adalah akhir perjodohan, menguatkanku. Entahlah, apakah terakhir kali aku dijodohkan ataukah akhirnya nanti aku ‘kan berjodoh dengan gadis pilihan mereka?

Jarum jam tak mau melambat, lajunya serasa sangat cepat. Dengan perencanaan yang sudah tertata, keluarga mengantarkanku menemui pilihan mereka. Namun, kali ini perasaan aneh menelusup setiba di rumah dengan halaman depannya yang cukup luas.     

“Assalamu’alaikum ….” Ayah mengetuk pintu.

“Wa’alaikumsalam .…”

Benar adanya, tepat di hadapanku berdiri paras ayu yang pernah kukenal, sungguh tak asing lagi.

“Diva…!!!”

“Iya, Do, ini aku, Adiva.”

“Tidak kebetulan, bukan?”

“Tidak! Dan aku akan jelaskan tentang … sesuatu yang mungkin melukaimu.” Diva menunduk lesu.

Rinduku telah terluka, menahan waktu dan berharap tersambut bidadari surga. Namun, kehadiranmu sudah tak kuharap lagi, Adiva Paraswati ….

“Silakan, anggap rumah sendiri. Diva, Edo, kalian sudah saling kenal, ya? Kalau mau ngobrol lebih leluasa, bisa di taman depan itu.” Permintaan Tante Mira mengagetkanku.

“Iya, Nak, nggak papa nikmatin saja,” sambung Ibu seketika.

Kini, aku lebih menjaga diri dengan perempuan yang bukan mahram. Bukankah perubahanku memerlukan waktu yang tak singkat? Penampilanku memang biasa saja tak seperti orang yang menyebutnya ikhwan. Biarlah semua menjadi masa lalu karena aku akan terus berusaha menjadi pribadi yang lebih baik lagi.

“Terimakasih, Tante, ngobrol di sini lebih nyaman.” Aku menolaknya dengan tersenyum.

***

“Do, ternyata kalian dulu pernah kenal?”

“Iya, Bu.”

“Tapi, kenapa kamu terlihat kaku dan malu-malu?”

“Dia, masa lalu, Bu. Karena dia, Edo bisa berubah seperti ini.” “Maksud kamu?” Ibu mulai mengernyitkan dahi dan menarik wajahnya.

“Maafkan Edo, Bu. Edo harap ini yang terakhir.” Nadaku mulai tak bersemangat.

“Do, Ibu jadi bingung. Ibu bilang kemarin kalau ini terkahir perjodohan, karena Ibu yakin kamu akan cocok. Diva itu cantik, pintar. Bibit, bebet, bobot semuanya dapat. Dia juga sudah menyelesaikan S2-nya di London.”

“Bu, ini soal hati. Sulit memaksakannya kalau tidak sreg. Edo sudah punya pilihan. Bersamanya, Edo merasa nyaman, adem melihatnya. Edo nggak ingin muluk-muluk memilih pasangan. Dia salihah, dan ….”

“Do, ada yang harus kamu ketahui tentang kesehatan Ayahmu.”

***

Ya, Rabb…bibir yang kembali basah lantaran zikir, kapankah mampu merangkai kata cinta dan melabuhkannya pada gadis pelipur lara? Bagaimana aku menolaknya jika ternyata dokter memvonis kanker paru Ayah sudah menyebar ke seluruh organnya.  Secara medis, tak lebih dua tahun Ayah mampu menopang raganya. Akan tetapi, andai aku tak membahagiakannya?

“Abah, bagaimana menurut Abah dengan perjodohan ini? Sangat berat jika harus memalingkan hati dari gadis itu.”

“Ya, Abah paham betul yang kamu rasakan. Abah sangat mengenalnya. Putri dari alhmarhum sahabat Abah. Namanya Azima. Sebenarnya, Abah sudah berencana menjodohkannya denganmu, tapi masih menunggu waktu yang tepat, karena ….” Abah seperti tak ingin melanjutkan.

“Kenapa, Bah?

“Saran Abah, istikharahlah!”

Bagaimana aku bisa beristikharah jika hatiku selalu memikirkannya? Permintaan yang sungguh berat, antara bakti dan tambatan hati. Aku selalu mengecewakan mereka dengan keegoisanku. Tetapi, dia yang selalu ada di setiap Duha dengan lantunan kalam-Nya yang dibaca, sungguh menentrakam jiwaku yang gersang. Dan ternyata bukan sebuah kebetulan, Abah Muslim telah mempersiapkannya sebagai jalan awal ta’aruf tersembunyi.

Suara detik jam dinding menemani keheningan sujud. Kuselipkan doa untuk mereka, Adiva Paraswati dan Azimatul Fikriya. Gejolak batin di awal istikharah meronta-ronta. Tak cukup sehari dua hari aku menetralkan perasaan. Serpihan air mata saksi ketulusan pintaku akan pilihan terbaik-Nya.

Meski harus berakhir pada cinta tak harus memiliki, ini adalah pilihan terbaik-Nya. Hari-hari menemaninya dengan kembali belajar mencintai, dia yang pernah membuatku patah hati. Mungkin, ini anugerah. Diberi-Nya aku kesempatan untuk menuntunnya lebih dalam tentang ilmu agama adalah hikmah.

***

“Ayah, meski Zahra belum sempat terdekap buaian uminya lantaran uminya kehabisan darah saat lahiran, Edo janji, cucu Ayah, kami rawat baik-baik. Edo bahagia dengan jodoh pilihan Ayah, dan semoga Ayah tetap bahagia Azima menjadi umi baru Zahra. Dia yang sederhana, tapi berkepribadian luar biasa. Meski tak lagi gadis lantaran penodaan Ayah tirinya yang akhirnya diusir dari rumah, tapi dia tetap gadis Duha Edo.”

“Mas, ikhlaskan mereka. Insyaallah sudah tenang bersama-Nya. Pulang, yuk, Zahra sudah menunggu.”

Kusambut erat uluran jemairnya, isyarat tak kan kulepas selamanya. Keabadian cinta kami kelak kan mempertemukan kembali di surga-Nya, insyaallah.


Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published.