TERLAMBAT

Efza Salsabila
Latest posts by Efza Salsabila (see all)

Tertekan dalam sekat mengakhirkanku pada kebebasan. Langkah yang awalnya terjerat, tetapi genggamnya kembali melemah lantaran usianya menuju senja. Sentuhan lisannya tak kuasa menjangkau birahiku. Kembali aku mengular lepas. Gedebag-gedegug bertolak belakang suara beduk. Ada candu nafsu yang selalu kurindu. Sepadan dengan manusia hina tak beragama. Anugerah paras ayu membuatku lengah dan jengah akan hidup yang tak pernah berubah.
“Ris, nanti bertemu di perempatan, ya. Aku jemput kamu di jam seperti biasa.”


Bunyi chat Nina—sahabat karibku— yang masuk selalu sama seperti sudah terprogram. Bukan sebulan atau seminggu sekali, tetapi setiap hari. Bahkan, terlalu sibuk hidupku, melebihi pekerja kantoran. Hasil usaha ini untuk biaya adik-adik yang masih bermain dan minum susu. Aku tak bisa berdiskusi tentang halal haram. Semua hanya satu tujuan, keluargaku senang.

Waktu terus merangkak cepat dengan ketidakteraturan langkah. Peluhku tak kuhiraukan karena hamper setiap waktu ku butuh uang. Hingga suatu ketika aku terlepas pegangan lantaran tetiba jejaka dating dan menjerembabkanku pada dasar jurang.

“Bu, maafkan anakmu.” Kalimat inilah yang menjadi penyesalanku.

Baca juga :  CINTAKU KLEPEK-KLEPEK KARENA DIA

Berunding dengan hati pun sia-sia. Tak ada lagi kawan, candaria, ngopi bersama, riuhan tawa. Semua berakhir lantaran ada yang kuabaikan. Ingat betul petuahmu yang terus terulang. Jarak ini cukup menghukumku. Napas kian tak tertahan. Tuhan tak rela, kelembutan dan kesabaranmu selalu kubalas dengan rangkaian kebohongan. Dia mengganjarku dengan lemah tak berdaya. Di sini, ruangan sempit miskin udara.

Suapan bersama isak tangismu sangat kurindu. Ada untaian doa mengalir mengharap kesembuhan saat tergeletak hanya karena sakit flu. Umur sepuluh tahun kala itu.

Terbaring lemah isyarat mengistirahatkan raga dan pikir agar ingat akan zikir. Belaian lembutnya membangunkan semangat, penuh harapaku cepat sadar dari keterpurakan jiwa.

“Ibu … adakah sapamu kan kembali?! Aku sangat merinduimu, Bu!!!”
“Terlambat!”
“Mbak Riris, bangun!! Mbak Riris, tahajud, Mbak!!”
“Astagfirullah, berat sekali kepala Mbak, Dek.”
“Iya, Mbak mengigau Ibu.”

Mimpi ini terburuk sepanjang tidur. Masa laluku yang telah kulebur bersama kebaikan-kebaikan mengingatkanku kembali akan nasihat perempuan pijar keluarga itu. Kau benar, Bu. Garis takdir hidup ini tak jahat. Keadilan-Nya yang tak mampu kita cerna, membuka celah-celah kehadiran setan. Selama nadi masih terus berdenyut, napas keluar masuk teratur, raga kuat menopang rangka, semua bisa tercukupi. Asal ikhtiar, tawakal tak pernah lena.

Alhamdulillah, jalan lurus yang kulalui membawaku pada kebahagiaan sebagai orang tua adik-adik. Semua kugapai atas rida-Nya.


Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published.