IBU, PINTU MENUJU SURGA

Nurul Lailati
Latest posts by Nurul Lailati (see all)

Perempuan yang kini ada di sampingku dan tengah berbincang-bincang dengan diriku, adalah ibuku. Perempuan yang sangat aku sayangi. Dari rahimnyalah, aku dilahirkan. Ketika kami berbincang, terkadang ada tawa dan senyum yang menghiasi wajah ibu, membuatku bahagia. Ya, di masa senjanya, beliau kini hidup sendirian. Suaminya telah meninggal hampir tiga tahun yang lalu. Putra-putrinya telah hidup berumah tangga dan tinggal terpisah agar lebih dekat dengan tempat kerja. Aku sebagai anak tertua dan kini hanya sendiri, sementara anak-anakku mondok semuanya. Tinggallah kami hanya berdua di rumah ibu yang lumayan besar untuk kami tempati.

Anak-anakku pulang ke rumah jika mereka sedang sakit saja atau sedang liburan. Jadi memang terasa sepi, tidak ada anak-anak. Apalagi jika aku pergi mengajar,iIbu benar-benar sendirian tinggal di rumah. Namun, ibu tidak mau ada orang untuk membantu beres-beres rumah atau sekadar menemani. Katanya, sayang uangnya untuk bayar pembantu. Lebih baik buat bayar anak-anakku dipondok, yang memang perlu biaya yang tak sedikit. Ya, seorang ibu memang tak kan pernah tega pada anak-anaknya. Apalagi, aku sebagai tulang punggung keluarga bagi kedua anakku.

“Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya.” (QS. Al-Isra: 23)

Teringat kalimat itu di dalam Al-Qur’an, bahwa kita sebagai anak hendaklah berbakti dan berbuat baik pada kedua orang tua, terutama kepada ibu. Pikiranku pun melayang mengingat kejadian sekitar empat tahun yang lalu. Saat itu, buku tertusuk paku payung di kamar mandi. Beliau tidak menyadarinya karena memang tertusuknya tidak dalam tidak sakit. Esoknya, beliau mengalami demam dan sempat terjatuh. Tak perlu berpikir lama, langsung kubawa ibu ke rumah sakit.

Setelah melalui pemeriksaan di IGD, ibu harus dirawat. Keesokan harinya, bagian punggung kaki ibu mengalami pembengkakan, tetapi lembek seperti berisi cairan. Benar saja, makin lama bagian yang lembek tadi pecah dan bolong. Awalnya aku kaget, mengapa bisa seperti itu. Belakangan, Ibu baru bercerita bahwa kaki ibu tertusuk paku payung, dan itu menyebabkan infeksi.

Setelah beberapa hari dalam perawatan, dokter pun menyarankan agar ibu dirawat di rumah saja karena penyembuhan luka ini membutuhkan waktu yang cukup lama. Akhirnya setelah melalui kesepakatan bersama, ibu dirawat di rumah dan memakai jasa suster untuk membersihkan dan merawat lukanya. Setelah dipikir-pikir, karena jasa suster cukup menguras kantong, aku pun nekat mengurus luka ibu sendiri.

Awalnya, aku tidak tega untuk melakukan itu semua. Namun, aku harus bisa melakukannya. Pertama, merendam kakinya dulu agar bagian yang bernanah menjadi lunak dan mudah digunting. Setelah digunting dan dibersihkan, lalu disemprot oleh cairan khusus. Kemudian, diolesi salep. Terakhir, ditutup dengan perban.

Itu semua kulakukan setiap pagi dan sore. Pagi sebelum berangkat ngajar, aku bersihkan. Siang saat pukul dua belas, aku pulang. Bakda salat Magrib, aku bersihkan kembali. Selama enam bulan, aku lakukan setiap hari. Tanpa rasa jijik ataupun yang lain, aku ikhlas mengerjakannya Karena aku ingin ibu segera sembuh. Segala saran dari teman, saudara, tetangga, kami lakoni, yang penting ibu segera sembuh.

Alhamdulillah, dengan mengucap syukur dan perasaan bahagia, akhirnya luka ibu sembuh. Lukanya benar-benar tertutup. Beliau mengucapkan terimakasih padaku. Namun, aku merasa apa yang kulakukan tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan semua pengorbanan ibu sejak aku lahir. Yang kutahu, aku harus berbakti dan berbuat baik pada ibu. Aku tidak ingin menjadi anak yang durhaka kemudian kehilangan satu pintu masuk ke surga.

Semoga pintu surga itu akan tetap terus terbuka selama kita masih memperlakukan ibu kita dengan baik dan penuh dengan rasa cinta. Sebagaimana dahulu ibu kita juga mencintai kita tanpa mengharap balas jasa. Sungguh, cinta ibu memang sepanjang jalan, tetapi cinta anak hanya sepanjang galah.

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published.