KACA, KOPI, SENJA

Ratih Nur Widyantari
Latest posts by Ratih Nur Widyantari (see all)

Kau berbisik padaku. Nada dan tuturmu itu pun masih saja lembut seperti dulu. Suara tawa di luar sana memang keras sekali, memanggil namaku, namamu, enggan pergi. Seperti lagu menggetarkan seluruh ujung kaca bening ini.

Kau menyeduh kopi untuk kita. Kau memelukku bagai rindu menggenggam hatinya di tempat kosong ini, di sini. Kau pun melihat bias wajahku di depan kaca. Aku pun melihatmu.

Kaca ini memang selalu memantulkan senyum kita. Pelukan hangat memadu nikmat yang terkumpul di peraduan. Namun, hujan kadang tidak berteman, ya. Membasahi kaca yang penuh dengan ketenangan. Ia mengguyur tubuhmu di belakangku, tubuhmu saja. Mengapa tubuhmu saja? Suram. Sudah tak kulihat lagi bayangmu dan tawa mereka di halaman itu.

Suaranya tak terdengar lagi di senjaku. Kopi cangkir di meja kayu yang telah dingin ikut menyaksikan aliran bayangan dirimu. Kau mau ke mana? Geram. Napasku berlarian tak terkira. Kenangan manis di luar kaca mulai melebur bersama rintihan jatuhnya air yang rintik. Hujan selalu mengalir hebat, menghilangkan jejak mereka dengan cepat. Mereka yang sedang berlarian dan tertawa dengan lepas di sana.

Baca juga :  WANITA BERTOPENG

Azan memang selalu menyapu drama lama yang terputar. Jika senja kali ini, sadarku tak kunjung menerima, segalanya akan menjadi rumit. Lamunan yang terbayang kala menatap hijau, membuat logikaku sulit untuk memilih.

Apakah hari ini, adalah hariku untuk mulai membuka mata? Air mataku tak mampu terbendung. Kuusap dengan kerah lengan panjangku yang kasar. Lembab di hidungku menambah kesedihan yang mendingin layaknya angin membersamai hujan yang deras. Kuambil buket di dekat kaca.

Aku mulai berani menginjakkan kaki di halaman itu. Halaman yang hari ini hijau, setahun lalu, mengubur jiwa-jiwa yang pernah mewarnai hidupku. Senjaku kini mulai temaram.

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published.