MALAIKAT UNTUK RISA

Ratih Nur Widyantari
Latest posts by Ratih Nur Widyantari (see all)

Gemuruh petir menyambar menembus jalanan dingin berkelabu kabut dengan derasnya. Menerangi detik demi detik bulir yang jatuh mengguyur tubuhnya. Alis tipis menyatu menderai rasa takut yang kian menyesak. Hati, pekikan, jeritan antara maut dengan dentum masih terdengar jelas di telinganya. Matanya yang basah pun masih terbuka.

“Mana malaikatku? Mana malaikatku?”

Kakinya sulit terangkat, tetapi masih dicobanya. Perlahan, ia dorong badan dengan tangan. Namun, tak kunjung bangkit tubuhnya itu. Seluruh rambutnya telah basah oleh air jahat yang merenggut nyawa seseorang yang dicintainya. Ia bagaikan petir menghanguskan pohon-pohon buruannya.

Tak berselang waktu, suara sirine mendengung di telinganya.

“Inikah waktuku?” Ia terkapar. Jalanan itu seperti kota yang sepi dengan tawa dan canda yang bahagia, tetapi gaduh dengan senjata dan nafsu akan harta dan tahta di dunia fana.

Hari ini, kursi roda akhirnya mengajaknya melihat dunia yang sangat luas. Seluas mata itu memandang, tak terdengar riuh perkataan dan dentuman senjata api lagi. Udara pun tampak sangat bersahabat dengan tubuhnya.

Tiba-tiba, seorang pria yang menggendong bayi mungil berpopok berdiri di samping Risa, membelai rambutnya yang terurai. Rambut itu seakan tak basah lagi oleh bulir-bulir pedih yang menghujani hidupnya dulu. Malaikat-malaikat itu kini hangat nyaman di pelukan Risa.

Baca juga :  PERFECT

Risa tersenyum sangat tenang. Bagaikan air yang hening di tengah telaga. Aromanya kini tak lagi bercampur besi tajam dan bubuk meriam panas. Aura kecantikannya kini makin bersinar. Secerah sinar mentari yang hangat saat di sini.

“Alat kejut!” Segera perawat membuka kotak menakutkan itu. Sudah digunakan, tetapi jasad itu tetap diam. Ia menggesek lagi, dan … dug! Kedua kalinya, tetapi mereka tetap diam. Waktu telah berjalan. Namun, alat itu tak mampu mengembalikan detakan jantung yang lepas tanpa meninggalkan bekas.

“Risa Alev Münevver, meninggal pukul 21.25. Pengeboman yang diluncurkan Israel ke Gaza. Malaikat lumpuh baik yang tak bersayap.” Vonis yang hampir terasa aneh bagi setiap jasad mati yang mendengarnya.

Padahal, Risa sedang tersenyum dan mengusap perlahan bayinya. Pria di sampingnya mendorong kursi roda itu perlahan. Bahkan, malaikat-malaikat itu menanjaki arah menuju perjalanan yang pasti mereka yakini kelak akan berujung. Perjalanan terpanjang dalam kisah romantis mereka bersama Tuhan.

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published.